JAKARTA TODAY- Pengusaha mikro mengalami 41 persen peningkatan pendapatan bisnis per bulan setelah menerima pinjaman modal kerja mulai 2 juta rupiah. Pemodalan masih menjadi bagian penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat piramida terbawah.

Amartha, sebuah pionir Peer-to-peer Lending Platform untuk usaha mikro di Indonesia, melakukan studi pada 400 pelaku usaha informal seperti peternak ikan cupang, penganyam keset, dan pedagang warung kelontong di wilayah Bogor dan Bandung. Menggunakan pengukuran Progress out of Poverty Index (PPI), pada Januari 2017, Amartha mencatat perubahan yang terjadi dalam kepemilikan aset rumah tangga dan kinerja bisnis pengusaha mikro.

Akhir 2015, mayoritas pengusaha mikro dilaporkan berpenghasilan kurang dari Rp 1,5 juta per bulan dan hanya 6 persen berpenghasilan lebih dari Rp 3 juta. Setelah diberi pemodalan dengan tenor satu tahun, pada akhir 2016, rata-rata pendapatan bulanan meningkat menjadi Rp 2.030.000 atau meningkat 41 persen dari tahun sebelumnya.

Ukuran pinjaman berkisar antara Rp 2–4 juta tergantung pada kelayakan peminjam. Pengusaha mikro ini rata-rata menggunakan pinjaman untuk menambah persediaan dagangan atau modal kerja, membuka lokasi bisnis baru, memperluas operasional, dan membuat diversifikasi produk. Pemberian modal ultra mikro mulai dari 2 juta rupiah untuk sektor mikro, ternyata tidak hanya berdampak pada semakin baiknya pendapatan bulanan.

Penelitian ini juga menunjukkan preferensi mereka untuk memperbaiki kualitas hidup dari pemasukan bisnisnya. Dari 400 partisipan, mereka memilih untuk memperbaiki lantai, membeli kulkas, mengambil cicilan motor, dan sebagainya setelah mengalami peningkatan pendapatan dalam setahun.

Pemasangan keramik adalah salah satu Indikator Kemiskinan & Kelaparan menurut PBB. Sebelumnya mayoritas mitra menggunakan lantai tanah, lantai tipe ini tergolong tidak sehat, sulit untuk dibersihkan, serta mudah lembab sehingga menarik nyamuk, hama, dan mendorong penyebaran penyakit seperti tifus dan malaria.

Data menunjukkan bahwa setelah mendapat pemodalan dan peningkatan pendapatan, partisipan yang menggunakan lantai tanah turun dari 25 persen menjadi 14 persen. Angka yang signifikan dalam menurunkan tingkat kemiskinan.

Kesejahteraan juga bisa dilihat dari transportasi. Hampir 80 persen dari total sampel mampu mencicil moda transportasi baru setelah setahun mengalami peningkatan pendapatan. Motor digunakan secara produktif untuk menurunkan ongkos transport dalam menunjang usaha mereka. Angka ini meningkat dari keadaan tahun lalu, yaitu 67 persen partisipan yang memiliki motor.

Data di atas menunjukkan bahwa pemodalan ultra mikro mampu memberikan efek bola salju bagi para pelaku UMKM, khususnya mereka, masyarakat prasejahtera yang tinggal di pelosok perdesaan. Andi Taufan Garuda Putra, CEO dan Founder dari Amartha menjelaskan, “Dengan keterbatasan infrastruktur dan layanan perbankan di daerah pelosok, pengusaha kecil yang bekerja di sektor ekonomi informal sangat kesulitan mendapatkan modal usaha yang terjangkau.”

Di momen 7 tahun berkarya ini, Amartha, sebuah platform pinjam meminjam online (Peer to peer Lending) mengajak lebih banyak masyarakat untuk berpartisipasi dalam gerakan ekonomi inklusif, dengan memungkinkan masyarakat di lapisan piramida terbawah memperoleh alternatif sumber pemodalan dari publik yang ingin menginvestasikan uangnya.(Yuska/rep)

loading...