JAKARTA TODAY- Bank Indonesia (BI) turut menampik tuduhan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menyebut Indonesia bertindak curang sehingga menyebabkan defisit perdagangan AS. BI pun memaparkan tiga indikator yang menunjukkan Indonesia tak layak memperoleh tuduhan Trump.
“Pertama, (Indonesia dikatakan melanggar) bila punya surplus (perdagangan) lebih dari US$20 miliar terhadap AS. Indonesia tidak (melanggar) karena hanya surplus US$13 miliar,” ujar Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Rabu (5/4).
Kedua, indikasi kecurangan menurut Mirza, dapat diukur dari neraca transaksi berjalan (current account defisit/CAD) . Negara yang melakukan kecurangan seharusnya mengalami surplus pada CAD. Namun, Indonesia justru mencatatkan CAD sebesar 1,8 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Ketiga, indikasi kecurangan juga dapat terlihat nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS. Tuduhan curang menurut Mirza dapat dilayangkan kepada Indonesia jika pemerintah dan BI sengaja membuat rupiah melemah sehingga mampu membuat ekspor meningkat.
“Indonesia kalau terjadi gejolak, BI masuk ke pasar. Yang terjadi malah cegah rupiah terlalu lemah. Sedangkan yang disasar Trump adalah sengaja membuat nilai tukar melemah,” jelasnya.
Kendati demikian, menurut Mirza, BI akan turut melakukan evaluasi dan terus memantau perkembangan hubungan perdagangan Indonesia-AS. Bersamaan dengan itu, pihaknya juga akan turut menunggu hasil laporan berupa daftar negara-negara yang melakukan kecurangan dari Kementerian Perdagangan AS dalam tiga bulan ke depan. “Yang penting, Kementerian Perdagangan yang harus lakukan monitoring. BI juga monitoring karena terkait dengan kurs,” terangnya.
Seperti diketahui, Indonesia masuk dalam 16 negara yang disebut Trump bertindak curang dan menyebabkan defisit yang perdagangan yang besar bagi Amerika Serikat.(Yuska Apitya/cnn)
loading...