Delapanbelas tahun silam, awal tahun 1999, saya menderita sakit yang agak aneh. Secara medis, para dokter yang menangani saya menyatakan bahwa saya menderita penyakit gastritis. Gangguan asam lambung berlebihan sehingga membuat saya sering kesulitan bernafas. Penderitaan ini saya alami cukup lama, meski sudah ditangani para dokter ahli di rumah sakit hebat.

Hingga suatu hari saya bertemu dengan Sang Guru Kehidupan dalam perjalanan dari Surabaya ke Solo di sebuah kereta malam. Seorang pria berumur yang duduk di samping saya, menatap dengan tajam. Tanpa saya tanya, dia berkata tanpa ragu, ‘’Kamu sakit berat. Yang bisa mengobatinya hanya kamu sendiri, tentu atas izin Allah.’’ Saya tertegun dan agak sedikit heran, kok bisa orang yang tidak saya kenal dan baru berjumpa di kereta tahu detil penderitaan saya.

Dan, tanpa saya minta Sang Guru Kehidupan itu memberi nasihat. ‘‘Ranjang itu tempat kamu tidur, beristirahat dan bersenang-senang dengan pasanganmu. Bukan tempat memikirkan pekerjaan atau yang lainnya. Percuma kamu memikirkan pekerjaan di tempat tidur, toh begitu kamu menemukan solusinya, kamu tetap tidak bisa melakukan apapun karena kantormu sudah tutup.’’

Benar juga nasihat pria tua itu. Dia lantas melanjutkan nasihatnya yang tanpa diminta itu. ‘’Jauhi kesedihan menjelang tidur, agar tidurmu menjadi tidur yang berkualitas, tidur yang menyehatkan, tidur yang menyebarkan semangat baru di pagi hari. Bagaimana caranya? Buang kesedihan, jauhkan keruwetan dengan meningkatkan pengharapan kepada Dzat Yang Maha mewujudkan harap.’’

Para ulama memang sering juga menasihati kita seperti ini: ‘’Janganlah terlalu berputus asa saat engkau kehilangan sesuatu yang indah, karena kadangkala sesuatu yang indah itu harus pergi dulu untuk hadirnya sesuatu yang lebih indah.”

Jadi, janganlah kita takut kehilangan pekerjaan atau apapun saat kita berada di tempat tidur. Bayangkan saja bersama pasangan kita sesuatu yang lebih indah akan hadir besok pagi, besok siang atau besok malam atau bahkan besok-besok waktunya yang tepat menjadi rahasia Allah. ‘’Anda tak kehilangan apapun? Syukurilah ketika nikmat itu masih bersamamu. Lalu dimanakah letak keluhan? Tak ada tempat baginya, tempat ini hanya untuk syukur dan sabar.’’

Tersenyumlah, letakkan kepala di bantal yang tepat dan dengan cara yang tepat. Yakinkan bahwa tubuh Anda sudah sampai duluan ke kasur sebelum kepala Anda. Bacalah doa dan terpejamlah dengan nyaman. (*)

loading...