Seorang istri pengusaha kaya raya gusar. Pasalnya, putra tercintanya yang duduk di kelas 6 SD berada di ranking ke-24 dari 25 murid di kelasnya. Padahal istri pengusaha itu telah menyumbang dana sangat besar ke sekolah itu. Rupanya, sumbangan yang mengalir begitu indah dan tampak dermawan  selama ini, punya motif. Tak dilandasi ketulusan dan keikhlasan.  Jika saja sumbangan tersebut bisaditarik lagi, mungkin akan ditariknya kembali. Sayangnya sumbangan si orang kaya tersebut sudah menjadi bangku dan bangunan.

SD Islam yang satu  ini bagus sekali memilih tetap obyektif di tengah Tarik menarik kongkalingkong yang sangat menggetarkan iman. Saat ini sudah langka sekolah macam ini. Yang banyak sekarang ini, mungkin sekolahnya menolak keras kongkalingkong, tetapi kepala sekolah dan walimuridnya melakukan praktik itu. Itu sebabnya, guru dianggap bukan lagi sosok yang wajib digugu (didengar) dan ditiru (diteladani). Mestinya ranking tak perlu menjadi sesuatu yang menggelisahkan. Namun, anaknya pengusaha ini memang jauh dari cerdas. Bahasa kaki limanya goblok sekali. Nasib tak bisa ditolak.

Orang kaya itu marah besar. Anaknya diminta untuk keluar dari SD itu dan dipindahkan ke luar negeri. Bagi dia, biaya tak masalah, memang. London Inggris menjadi tujuannya. Langsung dibayar lunas dan langsung diantar seluruh keluarga ke sekolah yang dituju. Sayangnya, anak ini masuk di tengah semester, sehingga butuh adaptasi cepat. Hari pertama dan kedua anak ini terdiam. Hari ketiga si anak tak betah ingin pulang,  tak mau sekolah di London.

Anak itu kemudian ditanya oleh ayahnya. Dan, anak itu dengan jujur berkata: “Papa, sekolah di sini ternyata tak sejujur sekolah kita. Kemarin diumumkan bahwa hari ini ujian matematika. Makanya semalam saya belajar angka. Ternyata tadi ujiannya bahasa Ingris. Walau ada angka-angka, tapi bahasa Inggris juga. Aku gak mau sekolah di sekolah yang membohongi siswa.” Rupanya si anak belum sadar kalau dirinya di London, semua perintah soal pasti dalam bahasa Inggris. Pulanglah dia ke kampungnya. Nasib akhir tak bisa ditolak. (*)

loading...