IMG_1725Catatat Spiritual Perjalanan Umroh (Bagian-3)

Sampai hari ketiga di Kota Madinah Almunawaroh saya terus diliputi kegembiraan dan ketenangan batin yang luar biasa. Tempat yang paling menyenangkan adalah Masjid Nabawi. Sesekali meninggalkan masjid untuk makan, istirahat tidur, atau cari makan diluar hotel tempat rombongan Almalik menginap. Lalu, kapan saya bisa menangis?

Selepas solat subuh berjamaah di Masjid Nabawi, Ustadz Uus, pembimbing umroh dari Almalik, meminta semua anggota rombongan yang berjumlah 25 orang itu berkemas untuk berangkat menuju Kota Makkah Almukaromah. ‘’Diusahakan setelah solat duhur kita sudah bisa berangkat, agar kita bisa solat isa berjamaah di Masjidil Haram,’’ katanya.

Kamipun berkemas. Menyiapkan semua perlengkapan untuk umroh, terutama baju ikhrom. Semua jamaah diminta sudah mengenakan baju ikhram ketika naik bus yang membawa kami ke Makkah. Jarak antara Madinah ke Makkah sekitar 475 Km. Karena kami menggunakan jalan darat, dibutuhkan waktu kurang lebih 5 jam, jika lancar.

Meski sudah mengenakan pakaian ikhram, para jamaah pria masih diperbolehkan mengenakan pakaian dalam. Pembimbing umroh memberitahukan bahwa mikat—niat—umroh akan dilakukan di Masjid Bir’ali, yaitu masjid yang dekat dengan tapal batas tanah haram. Perjalanan lewat darat dari Madinah ke Makkah ternyata sangat menyenangkan, meski pemandangan kiri kanan hanya gurun pasir dan rumah-rumah suku Badwi.

Sampai di Bir’ali agak molor dari jadwal karena di jalan bebas hambatan yang kami lalui ada kecelakaan kecil. Arus lalulintas agak tersendat. Usai solat sunah di Masjid Bir’ali, Ustadz Sabarudin, pembimbing umroh selama kami di Tanah Suci, memberitahukan bahwa semua jamaah pria diminta menanggalkan semua pakaian dalam. Hanya baju ikhram yang boleh dipakai. Para jamaahpun sudah kembali duduk rapi didalam bus. ‘’Mari kita istigfar sama-sama sebelum kita mengucapkan niat umroh bersama-sama,’’ ujar Ustadz Udin, panggilan Sabarudin yang sudah bermukim 11 tahun di Makkah.

Begitu istigfar dilantunkan bersama-sama, dada saya terasa berdegup kencang. Lebih kencang dari biasanya. Bulu kuduk terasa mulai berdiri. Saya merinding. Dan, begitu Ustadz Udin mengajak seluruh jamaah mengucapkan niat umroh, sayapun tak kuasa lagi menahan tangis. Saya benar-benar menangis dan bercucur air mata. Tangis yang sudah puluhan tahun tak pernah saya lakukan, muncul tiba-tiba. Rasa haru, sedih, bahagia bercampur aduk tidak karu-karuan. Saya tidak tahu, apakah yang lain juga menangis hebat, karena saya tak sempat menoleh sedikitpun lantaran sibuk dengan tangis saya sendiri. Tapi jamaah yang duduk di sebelah saya tampak menangis juga, walau tampa suara.

Setelah menangis hebat, dada saya terasa lega. Dan, sepanjang perjalanan dari Masjid Bir’ali ke Masjidil Haram semua jamaah terdengan melantunkan…’’Labbaika Allahumma labaik, Labbaika lasyarikalaka labbaik…..’’ Saya tiba-tiba merasa sangat kecil dan tida ada arti apa-apa. Merasa begitu bayak salah dan bergelimang dosa….! (Alfian Mujani|bersambung)

loading...