JAKARTA TODAY- Seiring dengan riuhnya perkembangan media sosial akhir-akhir ini ternyata turut membuat sejumlah orang terkena gangguan jiwa.

Perkembangan media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram dan termasuk aplikasi chat seperti WhatsApp dipenuhi oleh berbagai macam kehebohan yang membuat seseorang kadang merasa tidak nyaman. Hal itu setidaknya dirasakan oleh pasien dari Andri, Psikiater Klinik Psikosomatik Omni Hospital Alam Sutera.

“Belakangan ini banyak masalah yang dialami pasien saya terkait oleh berita tidak nyaman yang mereka baca di media sosial. Beberapa di antaranya sangat begitu terpengaruh oleh arus informasi yang sering membingungkan dan simpang siur tentang apa yang didapat dari media sosial,” ungkapnya di Jakarta, pada Senin (28/8).

Lebih jauh, Andri mengatakan, ada pasiennya laki-laki berusia 40an tahun. Pasien dibawa oleh keluarganya karena belakangan ini tampak kebingungan dan mulai berbicara kacau tentang situasi yang dia bayangkan akan terjadi.

“Kondisi ini terpicu oleh berita yang dilihat pasien berkaitan dengan demo-demo besar belakangan ini. Arus informasi yang dia dapat dari media sosial memperparah apa yang dia dapat sebelumnya dari berita di televisi,” ujarnya.

Andri mengatakan, simpang siur pendapat di media sosial ditambah berita tidak benar (hoax) yang dia baca membuat dia semakin kebingungan. Sampai suatu ketika dia mengatakan kepada keluarga suatu teori tentang penyelamatan negara di mana dia yang akan memimpin usaha penyelamatan tersebut.

“Dia meyakini hanya dia yang mampu melakukan hal tersebut dan sangat yakin akan usaha-usahanya,” ujar Andri.

Latar belakang sebagai pedagang kelontong biasa membuat orang yang mendengar ceritanya menjadi khawatir pasien sudah mengalami masalah kejiwaan. Saat diperiksa pasien diketahui mengalami masalah delusi/waham kebesaran.

“Saat wawancara pasien secara menggebu-gebu mengatakan bahwa dirinya yang bisa menyelamatkan negara dari kehancuran akibat perang saudara. Diagnosis mengarah ke suatu kondisi psikotik akut yang semoga tidak menjadi skizofrenia paranoid ke depannya,” kata dia.

Selain pasien pria itu, Andri mengatakan ia juga mendapati pasien lain, yakni perempuan usia paruh baya. Ia datang padanya dengan ketakutan yang luar biasa.

“Berita dari media sosial yang dia baca berkaitan dengan gejolak demo belakangan ini dan berita hoax yang dia baca tentang etnis Tionghoa membuat bayangan traumatik di masa tahun 1998 kembali teringat,” ujarnya.

Pasien mengatakan saat 1998 dia di jalan hampir mengalami dampak dari keberingasan massa. Saat itu setelah peristiwa 1998 dia menjalani perawatan psikiatrik karena masalah yang terkait dengan traumatik yang dia alami.

Ketidakstabilan situasi saat ini dan banyaknya berita-berita yang simpang siur dan hoax berkaitan dengan kondisi sekarang seperti menjadi pemicu buat dirinya. Di satu pihak dia tidak mau untuk membaca hal tersebut namun di lain pihak dia merasa susah menghindari informasi tersebut yang sangat masif dan berlebihan di media sosial bahkan group WhatssApp keluarga yang dia ikuti. Gejala-gejala kecemasan yang menyerupai kepanikan timbul kembali dan sering datang.

“Saya memang merasa bahwa arus informasi saat ini sangat berlebihan dan kadang kita sendiri tidak mampu untuk mengatasi derasnya arus informasi tersebut,” ujar Andri.

Begitu banyaknya informasi, kata dia, membuat publik sulit memilah mana yang benar mana yang salah. Mana yang benar terjadi mana yang merupakan informasi bikinan yang memang sengaja dibuat untuk kepentingan tertentu.

“Sayangnya semua orang seolah merasa ingin untuk ikutan menyebarkan berita dan informasi yang belum tentu benar tersebut. Kadang mungkin hanya karena ingin dikatakan update berita,” tambah dia.

Dengan berbagai kejadian itu, kata Andri, tidak heran juga kita mulai melihat adanya konflik-konflik di kolom komentar Facebook dan mention Twitter. Bahkan di WhatssApp group yang kita miliki saja banyak yang akhirnya ribut karena saling bersilang pendapat tentang topik yang diposting. Informasi saling diadukan sampai yang membacanya sendiri akhirnya merasa tidak nyaman.

“Beberapa di antaranya memilih untuk unfriend atau unfollow temannya. Bahkan beberapa meninggalkan group WhatssApp yang selama ini dia ikuti karena merasa tidak nyaman setiap hari harus berhadapan dengan perang opini yang kadang tidak berkesesudahan. Padahal mungkin yang dibicarakan pun tidak ada sangkut pautnya dengan orang tersebut,” ujarnya.

Lebih jauh, Andri lalu menganjurkan agar bijak dalam menggunakan media sosial. Di antaranya dengan membagi berita positif dan terpercaya kebenarannya, dan tidak memberi komentar yang memicu konflik. (Yuska/reu)

loading...