unnnnamed

Oleh: Bahagia, SP., MSc. Sedang Menempuh Program Doktor Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan IPB dan Dosen Tetap Universitas Ibn Khaldun Bogor.

Bencana ekologis perkotaan nampak bukan makin sedikit intensitas kejadiannya. Hujan termasuk benda alam yang sangat ditakuti kedatangannya oleh penduduk perkotaan. Sekan-akan tidak mau dapat air hujan. Kedepannya perkotaan benar-benar dihadapkan dengan bencana banjir, kekeringan, kelangkaan oksigen, dan kerusuhan sosial.

Kondisi psikologis manusia rusak berat, stress, dan mengalami gangguan Jiwa. Terlebih mereka yang terkena bencana banjir, tanah longsor, angin topan, gagal panen karena hama, dan mengalami kekeringan. Keadaan ini tidak lain lantaran ruang publik tidak ramah ekologis. Nuansa hijau hampir tidak ada pada ruang publik.

Satu sisi manusia selalu bersingguhan dengan ruang publik. Misalkan, orang yang mau berangkat kerja selalu harus pergi ke terminal. Kalau tidak pergi ke stasiun. Memang ruang publik ini sangat banyak ditanah air. Ruang publik itu meliputi ruang pinggir jalan raya baik sisi kanan dan kiri, terminal dan stasiun, ruang perpustakaan, lapangan bola kaki, dan pelabuhan.

Sebenarnya potensi ruang publik untuk mengatasi bencana sangat besar. Ruang yang digunakan masih luas dan sangat mungkin bisa dilakukan. Hanya saja ruang publik tadi tidak dikelola dengan optimal. Ruang yang masih luas terbuang begitu saja. Ruang yang tersisa jadi pagar beton, halaman beton, dan taman beton.

Akhirnya ruang publik jadi tempat terjadi bencana. Udara pada daerah itu pengab apalagai pada kawasan terminal. Tambah lagi sampah berserakan dimana-mana. Lingkungan juga bau pesing sebab banyak yang buang air kecil pada sudut-sudut terminal. Kondisi ini membuat hak-hak setiap warga negara tergadaikan. Masyarakat punya hak untuk dapat fasilitas ini setelah menunaikan pajak.

Masyarakat tidak boleh tidak bayar pajak. Dengan begitu, ruang publik mutlak harus diperbaiki sebagai wujud komitmen pemerintah karena rakyat sudah bayar pajak. Selain ruang publik yang telah disebutkan. Ruang seperti tanah lapang juga terancam beralihfungsi menjadi bangunan rumah dan industri. Diharapkan tanah lapang selalu tersisa untuk menjaga kebutuhan kehidupan sosial dan pelestarian lingkungan. Fungsi lapangan bola secara ekologis sebagai daerah penampung air hujan.

Rerumputan yang ada pada tanah lapang ikut menyerap air. Setidaknya mengurangi banjir permukaan tanah akibat curah hujan yang tinggi. Fungsi lain juga terwujudkan seperti meningkatnya minat pemuda terhadap olahraga terutama sepak bola. Hilangnya lapangan bola menyebabkan Indonesia gagal mencetak pemain bola andalan.

Mereka tidak bisa bermain dan latihan. Alasannya karena ruang publik tidak tersedia pada level desa. Bahkan ada desa-desa yang tidak punya lapangan bola. Selain itu pergaulan sosial pada daerah tertentu akan rusak. Mereka tidak bisa bertemu sambil bercanda pada ruang hijau. Anak-anak mereka akhirnya sulit untuk bergaul dengan anak yang lain.

Untuk mengoptimalkan ruang publik. Ada beberapa hal yang harus dilakukan. Semua terminal kecil dan besar dalam satu propinsi di buatkan taman, pagar hidup dan pohon-pohon. Pada pinggir terminal juga ditanami rerumputan sebagai pengalas bukan beton. Dari terminal itu memberikan kesegaran berupa oksigen.

Orang merasa nyaman untuk datang. Banjir perkotaan juga dapat dikurangi sebab air terserap. Sama halnya dengan fungsi ruang publik lain harusnya dilengkapi dengan taman dan pagar hidup. Jika optimalisasi ruang publik ini dilakukan dengan baik. Bencana perkotaan seperti banjir dan udara tercemar dapat diatasi perlahan-lahan.

Mulai saat ini lakukan gerakan taman hijau, pagar hidup dan tanam pohon pada ruang publik. Dilakukan oleh dinas lingkungan, kehutanan, dan pertamanan. Sedapat mungkin ruang kecil pada pinggir terminal dan stasiun kreta api ditanam rerumput. Pagar tembok ganti dengan pagar hidup. Selama ini pagar yang banyak pada kawasan terminal dan stasiun yaitu pagar besi dan pagar beton.

Gerakan pagar hidup ini dilakukan seperti menanam tumbuhan berjenis kayu. Selain pagar hidupnya, perluas juga taman hijau pada kawasan ruang publik. Ruang publik akhirnya menjadi penetral ekologis. Gas emisi diserap oleh tumbuhan dan ruang publik segar kembali. Orang sekitar ruang publik juga merasaan kenikmatan dengan cara pengelolaan ini.

Kedua, lomba keindahaan, kebersihan dan kenyamana. Buatlah kompetsisi kepada semua terminal dan stasiun. Terminal mana dan stasiun mana yang sudah ramah ekologis. Berikan penghargaan sehingga pengelola terminal dan ruang publik lain semangat. Ketiga, touring pendikan dan ekologis pada ruang publik. Sekolah-sekolah ditanah air sangat banyak mulai dari level SD sampai dengan level STA. Sekolah itupun beragam. Ada yang terkategori sekolah mum dan ada yang terkategori sekolah atas nama agama.

Siswa pada sekolah di touringkan pada tempat-tempat ruang publik itu. Guru sebagai guider menjelaskan peran dan fungsi dari ekologis perkotaan seperti ruang publik. Sejatinya sekolah harus mempunyai program untuk ini sehingga kesadaran ekologis tumbuh pada saat anak masih sekolah. Sekolah dimana dia belajar harus menjadikan pelajaran ekologis menjadi prioritas bukan lagi pelajaran tambahan. (*)

loading...