JAKARTA TODAY- Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro mengatakan kebijakan reindustrialisasi harus dilakukan untuk mengejar pertumbuhan ekonomi tinggi dalam puluhan tahun ke depan.

Menuju Indonesia 2045, Bappenas saat ini sedang menyelesaikan Visi Indonesia 2045. Salah satu elemen penting dalam visi tersebut, yaitu mempercepat ekonomi Indonesia untuk melepaskan diri dari jebakan pendapatan menengah ke negara berpenghasilan tinggi.

“Untuk mencapai visi ini, pemerintah Indonesia perlu menerapkan beberapa kebijakan utama. Kebijakan reindustrialisasi harus dilaksanakan,” ujarnya, Senin (14/8).

Salah satu elemen penting dalam Visi 2014 adalah mempercepat pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk melepaskan diri dari jebakan pendapatan menengah ke negara berpenghasilan tinggi. Dengan peta jalan terpadu, ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh 6,4 persen per tahun dalam skenario tinggi.

Dengan pertumbuhan ekonomi tersebut, Indonesia akan menjadi negara berpenghasilan tinggi pada 2034 dan pada 2045 mendatang dan PDB perkapita Indonesia diperkirakan mencapai sekitar US$29 ribu dan PDB Indonesia diperkirakan mencapai peringkat lima dunia, naik dari peringkat 16 pada 2016 lalu.

“Industri manufaktur harus dapat tumbuh rata-rata 7,8 persen per tahun selama 30 tahun ke depan, sehingga peran industri manufaktur dapat meningkat dari 21 persen di tahun 2015 menjadi sekitar 32 persen pada tahun 2045,” tutur Bambang.

Untuk mencapai tujuan tersebut, lanjutnya, kebijakan reindustrialisasi harus memiliki karakteristik antara lain, bisa diintegrasikan dari hulu ke hilir. Dengan melakukan ini, nilai tambah dalam industri manufaktur bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin bagi perekonomian.

“Integrasi hilir hulu ini juga diperlukan untuk memecahkan fenomena tengah berongga dalam struktur industri kita di mana industri kecil dan menengah memiliki sedikit hubungan dengan industri besar. Dengan integrasi ini, produktivitas industri kecil akan terdorong,” katanya.

Selain itu, ekonomi Indonesia juga diharapkan dapat memanfaatkan ekonomi digital secara optimal dan mendorong inovasi dalam kegiatan ekonomi pada umumnya.

Menurut Bambang, inovasi dan peningkatan digital merupakan faktor penting untuk meningkatkan produktivitas ekonomi.

Sedangkan, dua karakteristik lainnya, yaitu ada kebutuhan untuk memperbaiki aspek kelembagaan yang dapat mendorong inovasi, termasuk peningkatan pengembangan dan penerapan sains dan teknologi. (Yuska Apitya)

loading...