YANG paling menyenangkan pada bulan suci Ramadhan adalah gairah kegiatan keagamaan di masjid-masjid. Tak ada tempat solat yang senyap dari peribadatan. Setiap orang bersemangat mempersembahkan yang terbaik bagi Al Khaliq. Inilah Ramadlan Effect.

Seorang tetangga yang pada bulan – bulan sebelum Ramadhan tak pernah kelihatan di masjid, kini mendadak menjadi aktifis masjid. Remaja yang sebelumnya sibuk dengan acara hura – hura mendadak sibuk dengan acara kerohanian. Ibu – ibu yang kesehariannya sibuk dengan belanja dan memasak untuk keluarga, mendadak sibuk menyiapkan buka puasa di masjid dan mushalla.

Pantaslah ungkapan para bijak ini kita simak:’’Kalau engkau hidup seakan selalu dalam bulan Ramadlan, maka engkau akan mendapati akhiratmu sebagai hari raya.’’ Ungkapan ini memberikan pesan agar kita menjadikan hari – hari dalam kehidupan kita bagaikan hari-hari pada bulan Ramadlan, maka kematian kita bagaikan akhir puasa yang memasuki hari raya. Sebuah kematian yang penuh suka cita, bahagia tiada tara.

Pada hakikatnya yang berhak berhari raya adalah mereka yang berpuasa. Namun yang menarik, di Indonesia, semua orang ikut berhari raya, termasuk yang tak puasa dan mereka yang beragama non-Islam. Itulah tolerannya keberagamaan di Indonesia. Jika kita ingin meninggalkan dunia yang fana ini bagaikan merayakan hari kemenangan setelah berpuasa, maka marilah kita berpuasa dari apa yang dilarang Allah. Setelah kematian niscaya kita diberikan kebebasan berbuka sesuka-suka kita. Tak percaya? Silakan dicoba…!

loading...