Untitled-3JAKARTA, TODAY—Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya kembali membong­kar praktik prostitusi online terselubung via website. Alih-alih menawarkan jasa yang memberikan jasa talent SPG (Sales Promotion Girl) dan pramugari untuk sebuah event, sebuah website www.spgusher. com justru menawarkan wanita panggilan untuk layanan seks.

Direktur Reskrimsus Polda Met­ro Jaya Kombes Fadil Imran men­gatakan, kasus berawal dari ke­curigaan polisi saat melakukan cyber patrol terhadap website tersebut.“Ini berawal dari kecurigaan petugas cyber crime yang menemukan sebuah situs penyewaan model dan SPG un­tuk acara-acara. Setelah ditelusuri, ternyata jasa penyewaan itu hanyalah kedok prostitusi. Seorang muncikari dan model sudah ditangkap,” terang Fadil Imran, Minggu (21/8/2016) .

Praktik prostitusi online terse­lubung ini kemudian dibongkar oleh Subdit IV Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Metro Jaya. Tidak hanya menye­diakan SPG, website prostitusi online tersebut juga menyediakan model hingga pramugari.

Dari hasil penelusuran tim Cy­ber Crime Ditreskrimsus Polda Metro Jaya, seorang muncikari berinisial AN dan seorang model berinisial T yang menjadi PSK berhasil ditangkap poli­si. Keduanya diciduk polisi di sebuah hotel di kawasan Kalibata, Jaksel, be­berapa pekan lalu.

Kasubdit IV Cyber Crime Di­treskrimsus Polda Metro Jaya AKBP Roberto Pasaribu mengungkap, ad­min situs tersebut mengaku sebagai penyalur jasa model, pramugari, dan SPG, menampilkan foto-foto dan data diri wanita muda berparas cantik. Polisi kemudian menyamar untuk transaksi undercover buy.

“Polisi yang menyamar langsung menghubungi AN yang bertindak sebagai founder dan CEO situs itu lewat What­sApp. Dalam berkomunikasi, AN hanya mau berhubungan dengan pelanggan lewat WhatsApp dan BBM (Blackberry Messenger),” ungkap Roberto.

Dalam komunikasi WhatsApp tersebut, AN mengirimkan daftar se­jumlah wanita, lengkap dengan foto, umur dan tarif PSK tersebut.

Kepada petugas yang menyamar, AN sempat menawarkan seorang pramugari berinisial V dengan harga Rp 7 juta untuk sekali kencan. Setelah mengaku tak pu­nya uang sebanyak itu, petugas ditawari seorang mantan model berinisial T den­gan tarif Rp 5 juta per sekali kencan.

Setelah melihat keseriusan calon pelanggannya, AN juga mengirim fo­to-foto dan data diri sejumlah wanita lainnya dengan tarif bervariasi.

(Yuska Apitya/dtk)

loading...