PAMIJAHAN TODAY – Anggota DPR RI bersama Dirjen Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dirjen Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral, Dirjen Tenaga Listrik serta tim PLN, mendatangi lokasi warga korban banjir bandang akibat jebolnya Water Way milik PT Jaya Dinamika Geohidroenergy (JDG) di Kampung Muara RT 03/02 Desa Cibunian Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor.

Anggota DPR RI Komisi VII, Adian Napitupulu mengatakan, tingkat kemiringan dan ketebalan semen itu berbeda. “Jika itu landai mungkin bisa tipis, tapi jika melihat PT JDG ini harus lebih kuat bahkan mungkin harus ada tulangannya. Lalu pihak PT JDG juga harus menghitung karena diatas itu ada bendungan,” ujar Adian.

Jika bendungan tersebut jebol, lantas kemanakah airnya, sudah barang tentu kerumah yang lokasinya tak jauh dari bendungan. Oleh karena itu, harus dikosongkan lokasi yang berpotensi akan terdampak buruk. “Saya juga minta PT JDG menyelesaikan proses ganti rugi ini atau akan diperkarakan di DPR,” ancamnya.

Ia melanjutkan, menurut informasi perusahaan tersebut tidak memiliki amdal, nanti akan diperiksa kembali amdalnya. Namun sebelum melakukan pengecekan amdal dan sebagainya, korban harus selesai dulu dibantunya.

“Artinya ada atau tidak adanya amdal, atau amdalnya mau dibuat atau tidak atau mau disempurnakan atau tidak yang pasti korban sudah selesai dibantu. Setelah itu baru kita masuk ke tahap berikutnya,” tuturnya.

Hanya dalam waktu 12 jam ia dapat memanggil semua dirjen dari intansi terkait untuk berbicara disini. Untuk melakukan pengkajian terkait Water Way itu bidang lain yakni Badan Geologi dan instansi terkait.

“Intinya PT JDG akan mengganti rugi untuk bangunan Rp 3 juta permeter untuk bangunannya dan Rp 500 ribu untuk tanah permeternya seluas 100 meter. Tanah yang dikompensasi itu juga akan tetap menjadi tanah warga tapi dengan catatan tidak boleh dibangun apapun kecuali untuk kegiatan pertanian,” terangnya.

Sementara itu, Komisaris PT JDG John Paulus Pantauw mengungkapkan, pasca kejadian pihaknya akan melakukan analisa secara teknis yang juga akan dibantu oleh Badan Geologi untuk merestructure dengan sesuatu yang lebih aman dan dapat termonitor dengan baik. Lalu masyarakat yang rumahnya berada dibawah water way akan direlokasi. “Tadi adalah kesepakan yang bagus perusahaan akan membantu mereka membeli tanah dan membangun rumah yang permanen,” tuturnya.

Belum menghitung total kerugian karena akan berhenti beroperasi selama dua hingga tiga bulan kemudian akan melakukan rekontruksi, lalu membayar ganti rugi kepada masyarakat mungkin sekitar dua hingga dua setengah milyar rupiah, itu harus dikalkulasikan ulang.

“Total disini kita menyumbang 19 megawatt jika maksimum dengan kondisi air yang sedang bagus, namun jika kondisi air turun maka yang kita sumbangkan juga kadang hanya mencapai 8 megawatt atau 10 megawatt,” pungkasnya. (Agus)

loading...