Bodoh itu penyakit (Hadits Bukhori). Karena penyakit, maka bodoh atau kebodohan itu pasti ada bobatnya. Bodoh dan kebodohan itu pasti bisa diobati. Menurut hadits sahih lainnya, obat kebodohan yang paling utama adalah bertanya. Tentu bukan asal tanya, tetapi tanya kepada ahlinya, yaitu orang yang tahun persis duduk persoalan ikhwal yang ditanyakan. (Orang berilmu).

Siapa orang yang patut dijadikan tempat bertanya? Imam Al-Ghazali memberikan ilustrasi empat macam manusia yang hidup di tengah-tengah masyarakat. Pertama, orang tahu dan dia tahu bahwa dirinya tahu. Kedua, orang tahu tetapi dirinya tidak tahu kalua dia tahu. Ketiga, orang tidak tahu tetapi dirinya tahu bahwa dia tidak tahu. Keempat, orang tidak tahu dan tidak tahun kalua dirinya tidak tahu. Orang pertama adalah orang yang berilmu, kepada merekalah kita belajar dan bertanya. Kedua, adalah orang lalai. Mereka ini perlu diberi peringatan. Ketiga, orang bodoh, mereka ini perlu dibimbing dan diajari. Keempat, orang dungu dan bloon. Hati-hati dengan jenis orang keempat ini, bisa mati dan mematikan karena sifatnya yang sok tahu.

Di era kehidupan ultramodern ini tentu banyak rumah perawatan untuk mengobati penyakit kebodohan. Ada sekolah formal dari level kelompok bermain hingga pasca sarjana, ada forum-forum ilmu, ada majelis ilmu, bahkan banyak majelis ilmu virtual yang bisa diakses dari manapun dan kapanpun. Tapi sayangnya kita belum mengoptimalkan rumah-rumah tempat menyembuhkan penyakit kebodohan ini. Tengoklahlah di sekolah-sekolah, di kampus-kampus, dan di majelis-majelis ilmu berapa banyak orang yang rajin bertanya? Tak banyak, hanya 10:1, dari sepuluh orang hanya satu orang yang rajin bertanya untuk mencari kejelasan dan pemahaman yang benar. Ini menunjukkan betapa sangat sedikitnya orang yang menyadari dirinya masih bodoh. Sembilan orang lainnya sering kali merasa sudah tahu dan sok tahu.

Akibat dari terlalu banyaknya orang-orang yang sok tahu tetapi sesungguhnya tak tahu itu, tentu sangat fatal. Bangsa ini tertinggal jauh. Masyarakatnya gemar berdebat dan bertengkar. Celakanya, yang sering diperdebatkan dan dipertengkarkan adalah pepesan kosong. Alhasil, asse-asset bangsa dirampok para penyamunpun kita masih asyik berdebat. Bahkan sebagian dari kita menganggap para penyamun asset bangsa itu sebagai pahlawan pertumbuhan, pahlawan kemakmuran, penyelamat kaum miskin. Karena itu, jangan heran jika suatu saat nanti kita dikirim pemimpin dzalim sebagai teguran dari langit. Dan, bisa jadi teguran itu berubah jadi adzab. (*)

loading...