alfian mujaniBERHATI-hatilah dalam memuji dan mencela. Jangan sembrono mendukung dan mengkritik. Sikap yang kita pilih sungguh menunjukkan nilai kita, posisi kita dan derajat kita. Orang lain tak perlu tahu keseluruhan kisah hidup kita untuk menilai kita. Merek cukup melihat keberpihakan kita dalam hidup dan pilihan sikap kita dalam beberapa peristiwa saja.

Orang yang senang berkumpul dengan para ulama bisa dinilai sebagai santri atau orang yang simpati pada ulama. Orang yang suka duduk dengan para pencuri bisa dinilai sebagai para pencopet atau gerombolan penikmat hasil curian. Tak akan memuji ulama kecuali orang yang suka pada ilmu dan kesantunan. Tak akan memuji para maling kecuali orang yang sepaham dan seperilaku. Sebaliknya, tak akan membenci ulama kecuali orang bodoh dan penjahat, sebagaimana tak akan membenci kejahatan kecuali orang baik.

Kita perlu renungkan kalimat Syekh Muhammad Abdul Halim Abdullah berikut ini: ‘’Tak akan mencela mabuk, kecuali orang yang tidak minum minuman beralkohol (khamr). Peminum minuman keras akan dengan bangga bercerita tentang sensasi dan nikmatnya mabuk. Sementara orang yang tak suka minum khamr karena takut kepada Allah tidaklah mungkin memuji mabuk.

Lalu bagaimana dengan sikap mendukung dan menolak? Jawabannya sama saja. Anda adalah seposisi dan sepangkat dengan apa atau siapa yang Anda dukung. Para pendukung kebenaran dan kebaikan adalah orang-orang benar dan orang baik. Demikian pula sebaliknya. Begitu mulianya orang memuliakan orang mulia, begitu nistanya mereka yang memuliakan orang nista. Pendukung penista sama kelas dan derajatnya dengan penista.

loading...