Oleh : Rr. Vincie Apriany, SST

(Statistisi BPS Kota Bogor – Alumnus STIS Jakarta)

Setiap tanggal 12 Nopember selalu diperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN). Pada tahun ini, HKN yang ke-54 diperingati dengan tema “Aku Cinta Sehat”dengan subtema “Ayo Hidup Sehat, Mulai dari Kita”. Tema tersebut sejalan dengan Program Indonesia Sehat melalui pendekatan keluarga, mengajak seluruh komponen bangsa dengan kesadaran, kemauan dan kemampuan berperilaku sehat untuk meningkatkan kualitas hidup. Mengubah gaya hidup menjadi hidup sehat dimulai dari diri sendiri, merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya hidup sehat.

Angka Harapan Hidup

Peningkatan kualitas hidup masyarakat suatu daerah akan berdampak pada semakin panjang usia penduduknya. Indikator untuk mengukur semakin panjang usia penduduk dikenal dengan Angka Harapan Hidup (AHH). AHH merupakan salah satu instrumen untuk mengevaluasi kinerja pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk, khususnya meningkatkan derajat kesehatan.

Konsep definisi AHH adalah rata-rata tahun hidup yang masih akan dijalani oleh seseorang yang telah berhasil mencapai umur x, pada suatu tahun tertentu, dalam situasi mortalitas yang berlaku di lingkungan masyarakatnya. Idealnya, AHH dihitung berdasarkan Angka Kematian Menurut Umur (Age Specific Death Rate/ASDR). Data ASDR diperoleh dari catatan registrasi kematian secara bertahun-tahun sehingga dimungkinkan dibuat tabel kematian.

Perempuan Lebih Panjang Umur

Usia harapan hidup perempuan di Indonesia lebih lama dibanding laki-laki. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2017, AHH perempuan di Indonesia 73,06. Sedangkan AHH laki-laki di Indonesia 69,16. Interpretasi dari statistik ini adalah, bayi-bayi berjenis kelamin perempuan yang dilahirkan menjelang tahun 2017, akan dapat bertahan hidup hingga pada usia 73 tahun. Sedangkan bayi-bayi berjenis kelamin laki-laki yang dilahirkan menjelang tahun 2017, akan dapat bertahan hidup hingga pada usia 69 tahun.

Di Indonesia, terjadi peningkatan usia harapan hidup setiap tahunnya, baik penduduk laki-laki maupun perempuan. Statistik menunjukkan, AHH laki-laki 2010 pada angka 67,89 berturut-turut mengalami kenaikan hingga mencapai angka 69,16 di tahun 2017. Sejalan dengan itu, AHH perempuan 2010 pada angka 71,83 berturut-turut mengalami kenaikan pula hingga mencapai angka 73,06 pada 2017.

Kesenjangan Usia Harapan Hidup

Masih terjadi kesenjangan usia harapan hidup di Indonesia. Tidak sampai seperempatnya dari jumlah propinsi yang ada di Indonesia memiliki usia harapan hidup di atas Indonesia. Dari 34 propinsi yang tersebar di seluruh wilayah nusantara, hanya 7 propinsi (20%) yang penduduknya memiliki usia harapan hidup lebih tinggi dibanding Indonesia secara keseluruhan. Ketujuh propinsi dimaksud berturut-turut adalah: Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta, Jawa Tengah, Kalimantan Timur, Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, Jawa Barat, Kalimantan Utara dan Bali. Sisanya, yaitu 27 propinsi masih memiliki usia harapan hidup di bawah rata-rata angka harapan hidup secara nasional.

Pada tahun 2017, propinsi yang memiliki usia harapan hidup paling panjang adalah DI Yogyakarta, yaitu 72,95 tahun untuk laki-laki dan 76,57 tahun untuk perempuan. Sedangkan propinsi yang memiliki usia harapan hidup paling pendek pada tahun yang sama adalah Sulawesi Barat, yaitu 62,52 tahun untuk laki-laki dan 66,23 tahun untuk perempuan.

Work Life Balance

Usia harapan hidup sangat dipengaruhi oleh kemampuan manajemen kehidupan, agar tidak menjadi sakit. Beberapa ahli kesehatan berpendapat bahwa ada dua faktor utama yang menyebabkan sakit, yaitu: genetik dan lingkungan. Faktor lingkungan termasuk gaya hidup kurang sehat baik berupa asupan makan dan minuman yang mal-gizi serta kurang memperhatikan keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan, seringkali terabaikan. Keseimbangan kehidupan dan pekerjaan (work life balance) adalah cara bekerja dengan tidak mengabaikan semua aspek kehidupan kerja, pribadi, keluarga, spiritual dan sosial.

Kehidupan pribadi termasuk diantaranya adalah menyediakan kecukupan waktu untuk istirahat. Baru-baru ini Pemerintah Federal Australia memprakarsai penyelidikan yang akan dilakukan oleh Parlemen Australia mengenai kecukupan tidur warganya, serta biaya ekonomi dan sosial yang mengakibatkan penduduknya kurang tidur. Penyelidikan ini berdasarkan beberapa penelitian bahwa kurangnya waktu tidur dapat berdampak negatif pada kesehatan dan bahkan memperpendek harapan hidup.

Dengan menerapkan work life balance secara benar, diharapkan menghasilkan etos kerja yang tinggi dengan dukungan kondisi jasmani dan rohani yang prima. Pada akhirnya, usia harapan hidup akan meningkat. Konsekuensinya, penduduk kian panjang umurnya. (*)

loading...