1JAKARTA, TODAY – Setiap orang memiliki pekerjaan masing-mas­ing. Dalam keseharian, pekerjaan pun memiliki pengaruh terhadap kesehatan orang yang melakukan pekerjaan tersebut.

Seperti dirangkum detikHealth dari berbagai sumber, berikut ini cara pekerjaan yang dilakukan se­seorang dapat berpengaruh pada kesehatan.

  1. Kerja shift malam bikin ge­muk

Studi dalam Proceedings of the National Academy of Science of the United States of America men­gungkapkan mereka yang rutin bekerja dengan shift malam, yang berarti ‹mengorbankan› jam tidur malamnya, memiliki pembakaran kalori yang lebih sedikit, diband­ing mereka yang bekerja shift siang.

Peneliti menyebut akar pokok masalah kesehatan pada pekerja shift malam adalah terganggunya sistem metabolisme alami tubuh. Hal ini juga berlanjut pada ter­ganggunya irama sirkadian pada tubuh. Pemimpin penelitian, Prof Kenneth Wright, mengatakan hasil studi ini kemungkinan di­dapat karena bekerja dengan shift malam pada dasarnya bertentan­gan biologi dasar tubuh kita.

“Jam biologis tubuh menu­rut Prof Wright didesain untuk makan di siang hari dan istirahat di malam hari,” tuturnya.

  1. Pekerjaan yang membo­sankan bisa tumpulkan otak

Studi uang dilakukan Florida State University mengatakan bah­wa pekerjaan yang dirasa ‹mem­bosankan› atau kompleksitasnya rendah memberikan stimulasi yang minim untuk otak. Akibatnya dalam jangka panjang hal ini bisa mendorong penurunan fungsi kognitif otak.

Pemimpin studi ini, dr Joseph Grzywacz membuktikannya den­gan melihat data 5.000 pekerja di Amerika Serikat. Masing-masing partisipan diukur kemampuan kognitif dan kualitas tempat ker­janya lalu dicocokkan kembali setelah beberapa waktu.

Hasilnya partisipan dengan pe­kerjaan kompleks, ditandai den­gan kebutuhan untuk memecah­kan masalah-masalah baru dan belajar kemampuan baru, memi­liki kemampuan kognitif otak yang lebih baik.

  1. Jenis pekerjaan berkaitan dengan risiko serangan jantung

Sebuah penelitian di Amerika Serikat mengaitkan jenis peker­jaan dengan risiko serangan jan­tung. Diketahui, orang-orang yang bekerja di bidang penjualan paling rentan mengalami salah satu pe­nyakit paling mematikan tersebut.

Kelompok usia 45 tahun ke atas yang bekerja di bidang penjualan, kantor, dan jasa layanan makanan disebut paling rentan mengalami stroke dan serangan jantung. Se­lain itu, 68 persen pekerja di bi­dang penjualan dan administra­tive support punya pola makan yang buruk. Bahkan 69 persen pe­kerja di bidang penjualan punya kadar kolesterol yang tinggi.

“Makin kecil jumlah faktor risiko kardiovaskular, makin mudah untuk memprediksi ke­sehatan mereka di masa depan, termasuk kematian dini, penyakit jantung, stroke, dan penyakit gin­jal,” kata Captain Leslie MacDon­ald dari US Public Health Service yang memimpin penelitian ini.

  1. Diperlakukan adil, kary­awan lebih sehat dan produktif

Penelitian yang dilakukan pada lebih 5.800 orang yang bekerja di Swedia menyelidiki tentang persepsi keadilan pada prosedur kerja seperti gaji, promosi, ban­yaknya tugas dan imbalan, serta dampaknya kepada kesehatan karyawan. Dari hasil studi, dapat disimpulkan ketika persepsi kary­awan tentang keadilan berubah, kesehatan mereka juga mengala­mi perubahan.

Salah satu peneliti dari Stock­holm University, Dr Constanze Eib mengatakan studinya bisa membantu meingkatkan kesada­ran di kalangan pengusaha dan penguasa bahwa keadilan dapat meningkatkan kesehatan pekerja. Jika karyawan sehat, tentunya produktivitas, kesejahteraan dan kepuasaan akan meningkat.

«Temuan ini sekaligus men­egaskan bahwa keadilan di tempat kerja merupakan aspek penting dari lingkungan kerja psikososial. Hal ini ditunjukkan dengan me­ningkatnya kesehatan karyawan di perusahaan yang merasa lebih adil untuk urusan gaji, promisi, tu­gas, serta imbalan,» katanya.

  1. Atasan banyak mau, kary­awan berisiko terkena diabetes

Sebuah studi dari Jerman men­emukan pekerja dengan atasan yang banyak mau tak hanya mu­dah terserang stres, tapi juga rent­an mengidap diabetes tipe 2, bah­kan bila ia sebenarnya orang yang sehat atau tidak memiliki faktor risiko sakit gula sekalipun.

“Kami kira tekanan kerja yang tinggi akan membuat gaya hidup seseorang cenderung berubah, karena mereka akan ‹melampi­askannya› dengan merokok atau makan makanan yang tak sehat. Namun ternyata bukan begitu,” kata peneliti, Karl-Heinz Ladwig.

Bahkan, Ladwig merasa heran ketika menemukan pekerja yang stresnya tinggi namun tak bisa menentukan sendiri kapan peker­jaan mereka harus diselesaikan malah rentan terserang diabetes, terutama diabetes tipe 2.

loading...