JAKARTA TODAY- Banjir yang terjadi di sejumlah daerah dalam beberapa hari terakhir, rupanya cukup dikeluhkan pengusaha. Genangan banjir membuat pengiriman barang terganggu sehingga banyak mengalami keterlambatan.

Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI), Zaldy Ilham Masita, mengungkapkan keterlambatan pengiriman tersebut lebih disebabkan karena kemacetan yang ditimbulkan banjir. Seperti kemacetan parah yang terjadi di ruas Jalan Pantura.
“Kalau banjirnya sendiri sebenarnya bagi angkutan logistik tak terlalu berpengaruh. Karena truk-truk kita ukuran besar, jadi bisa melewati banjir. Namun karena banjir jalan jadi macet sekali dimana-mana, ini yang paling kita keluhkan,” ujar Zaldy, Minggu (26/2/2017).
Selain macet, menurut dia, banjir yang terjadi di banyak tempat tersebut juga membuat jalan-jalan berlubang semakin memperparah keadaan. Hal ini membuat pengusaha logistik terpaksa menambah ongkos perjalanan.
“Sudah macet, karena hujan juga kan jalan jadi pada rusak dimana-mana, jadi jalan truk itu akhirnya lebih lambat. Di Pantura itu rusak banyak. Banjir itu macetnya yang paling kita keluhkan. Jadi parah sekali macetnya. Naiknya sampai 5% dari ongkos transportasi,” ungkap Zaldy.
Dia berujar, kondisi banjir ini sudah dikeluhkan pengusaha sejak Januari lalu. Selain kawasan Pantura, beberapa daerah lain juga banyak yang terimbas banjir. “Di beberapa kota lain juga sama, tapi yang paling sibuk kan di Jalan Pantura. Ini sejak Januari lalu. Paling parah itu di Pantura dibanding wilayah-wilayah lain di Indonesia” kata dia.

Zaldy juga mengaku, pihaknya sampai saat ini masih menghitung kerugian pengusaha angkutan logistik akibat dampak banjir tersebut. Namun yang pasti, keterlambatan satu atau dua hari bagi dunia usaha yang sangat besar dampaknya. “Yang paling parah kira rasakan itu dari delay. Jadi yang banyak terlambat satu dua hari, harusnya barang sampai kemarin, tapi baru sampai hari ini. Soal perkiraan kerugian kita masih hitung,” ujar Zaldy.
Menurut dia, dampak banjir paling parah yang paling dikeluhkan pengusaha yakni kemacetan parah di Jalan Pantura. Banjir selain memicu banyak kemacetan, juga banyak menimbulkan lubang-lubang jalan yang menganga di sepanjang nasional itu. “Paling parah itu di Pantura dibanding wilayah-wilayah lain di Indonesia,” pungkas Zaldy.

Menurut Deputi Kepala BPS Bidang Statistik Distribusi dan Jasa, Sasmito Hadi Wibowo adanya banjir tidak berdampak signifikan. Kecuali terhadap pangan yang memang sudah naik seperti cabai sebelum adanya banjir.
Menurutnya, harga cabai memang sudah naik sebelum adanya banjir karena tingginya curah hujan yang mempengaruhi stok cabai. Pasalnya, cabai di musim hujan memang lebih cepat busuk.
“Walau banjir cukup merata se-Indonesia secara umum belum mempengaruhi, kecuali komoditas yang sudah sensi selama ini yaitu cabai. Cabai rawit merah masih bandel tidak turun-turun tajam, cabai merah yang biasanya berlawanan arah dengan cabai rawit, sekarang ikut-ikutan naik,” kata Sasmito, Minggu (26/2/2017).
Khusus untuk beras, harga yang berlaku di pasar justru cenderung turun seiring dengan rendahnya harga gabah. “Nampaknya tidak signifikan, apalagi harga beras, ada kecenderungan turun di musim panen ini karena ke faktor musim,” ujar Sasmito.
Sementara itu, bawang merah dan tomat cenderung stabil. Namun, harga minyak goreng dan ikan cenderung naik. “Bawang dan tomat stabil. Minyak goreng agak naik sedikit. Namun saya yakin sudah diantisipasi Pemerintah,” ujar Sasmito.
Akan tetapi, ikan mengalami sedikit fluktuasi akibat banjir. Misalnya ikan kembung, sedangkan ikan bandeng cenderung turun karena hasil tambak ikan.  “Ikan bandeng cenderung turun, tapi ikan kembung cenderung naik jadi mixed,” ujarnya.
Sasmito mengatakan, karena banjir sudah terjadi setiap tahun, kini para pengusaha sudah melakukan beberapa antisipasi. Oleh karena itu, dampaknya tidak signifikan. “Karena banjir terjadi setiap tahun. Jadi faktor musim juga sehingga para pelaku usaha sudah antisipasinya. Selanjutnya dampak yang ada umumnya juga tidak signifikan,” ujarnya.(Yuska Apitya/dtk)

loading...