JAKARTA TODAY- Harga minyak meningkat 1 persen pada perdagangan Kamis (6/4). Namun, analis masih cemas bahwa persediaan AS masih akan membayangi pergerakan harga minyak. Dikutip dari Reuters, harga minyak Brent terdongkrak US$0,53 ke angka US$54,89 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) meningkat US$0,55 ke angka US$51,7 per barel.

Harga minyak telah berbalik menguat selama dua pekan terakhir setelah penurunan tajam di bulan Maret. Operasional kilang sudah dimulai untuk mengakomodasi musim panas AS dan persediaan bensin AS pun mulai menurun.

Pelaku pasar telah mengamati persediaan bensin sebagai indikator persediaan minyak mentah AS. Data terakhir menunjukkan bahwa suplai bensin tercatat 239 juta barel, atau lebih tinggi dibanding rata-rata tahunannya.

Namun, beberapa analis cemas bahwa spekulan akan masuk kembali ke pasar setelah mengetahui bahwa stok minyak saat ini telah berkurang. Selain itu, data Energy Information Administration (EIA) AS menunjukkan bahwa persediaan minyak masih berada di kisaran tertingginya. Tercatat, persediaan minyak pada pekan lalu meningkat 1,57 juta barel dan membuat total stok minyak mentah AS di angka 535,5 juta barel. Di sisi lain, ekspor minyak mentah AS juga telah mencapai rekor sebesar 1,1 juta barel per hari. Sebagian besar pengiriman ditujukan bagi pasar Asia, di mana pasar minyak di wilayah ini mengetat pasca kebijakan pembatasan produksi organisasi negara-negara pengekspor minyak (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC).

Produksi tambahan mungkin akan terjadi dalam waktu dekat. Pasalnya, proyek Syncrude di Alberta, Kanada akan kembali beroperasi pada bulan Mei mendatang setelah produksinya dihentikan akibat kebakaran. Produksi lapangan minyak itu tercatat 350 ribu barel per hari. (Yuska Apitya/reu)

loading...