B1-18-8-2016-Bisnis-TodayGUBERNUR Bank Indonesia (BI), Agus D.W. Martowardojo mengungkapkan pentingnya makna hari kemerdekaan bagi dia dan seluruh bangsa Indonesia. Setiap hari peringatan kemerdekaan Indonesia tiba, Agus menjadikannya sebagai kesempatan untuk bersyukur.

Oleh : Alfian Mujani
[email protected]

Kita bersyukur atas kemerdekaan Indonesia yang kita peroleh dan kita bersyukur ada pendahulu kita yang mengisi dan memberikan kemerdekaan untuk Indonesia,” ujar Agus, kepada Tempo, usai memimpin upacara di kantornya, Kompleks Bank Indonesia, Thamrin, Jakarta, Rabu (17/8/2016). Agus menuturkan pada momen peringatan hari ke­merdekaan ini harus digunakan oleh seluruh warga Indonesia untuk membangun komitmen demi kemajuan tanah air. “Berkomitmen un­tuk bisa berkarya lebih baik lagi.”

Menurut Agus, perayaan perin­gatan kemerdekaan Indonesia dari tahun ke tahun selalu diseleng­garakan dengan lebih baik, di se­luruh penjuru negeri. “Dan tentu kita isi kemerdekaan ini dengan membangun Indonesia agar lebih makmur, sejahtera, berkeadilan,” ucapnya.

Kemarin pagi, Agus bertindak sebagai inspektur upacara di upa­cara peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-71 di La­pangan BI. Upacara sudah dimulai sejak pukul 07.00 WIB tadi.

Di area lapangan BI, ratusan pegawai yang mengenakan seragam atasan putih dan bawahan hitam tampak berbaris rapi. Di barisan depan juga tampak jajaran Dewan Gubernur BI lainnya, tak terkecu­ali Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara. Istri dari Dewan Gu­bernur juga turut mendampingi mengenakan setelan kebaya ber­warna merah.

Agus dalam pidato upacaranya mengucapkan rasa syukur atas kondisi perekonomian Indonesia yang terus membaik. “Kita bersyu­kur bahwa stabilitas makro ekonomi terjaga baik,” ujarnya.

Agus berharap perbaikan ini terus berlanjut. Dia pun berpesan kepada seluruh jajaran dan pega­wai BI untuk selalu bersemangat melakukan yang terbaik menga­wal moneter dan perekonomian Indonesia. “Ekonomi Indonesia mulai tunjukkan perubahan, mari semangat membangun negeri,” ka­tanya.

Agus juga menilai target pertum­buhan ekonomi tahun 2017 sebe­sar 5,3 persen yang dicanangkan pemerintah sebagai target yang kon­servatif dan realistis. “Saya merasa itu pilihan yang realistis, cukup kon­servatif dan mempertimbangkan kondisi dunia,” ujar Agus.

Target pertumbuhan ekonomi 2017 tersebut naik tipis dari target tahun ini sebesar 5,2 persen. Menu­rut Agus, pertimbangan utama dari penetapan target pertumbuhan ekonomi itu adalah kondisi pereko­nomian dunia yang belum membaik atau pulih benar. Bahkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia pada semester kedau 2016 pun telah dikoreksi menurun.

Menurut Agus, target pertum­buhan ekonomi Indonesia sebesar 5,3 persen pada tahun depan sudah terhitung tinggi. “Karena kita tahu kondisi di negara-negara maju. Bah­kan mereka berusaha mengejar per­tumbuhan ekonomi dengan menge­luarkan kebijakan moneter tingkat bunga minus.”

Sentimen dunia yang paling hangat dan perlu diwaspadai, ucap Agus, adalah dampak keputusan In­ggris Raya keluar Uni Eropa (Britain Exit) beberapa waktu lalu. “Sejak Inggris keluar Uni Eropa, dalam dua tahun ke depan masih akan banyak ketidakpastian,” tuturnya.

Kemarin, Presiden Joko Widodo membacakan asumsi makro dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2017 di rapat paripurna Dewan Perwakilan Rakyat. Presiden mengatakan per­tumbuhan ekonomi pada 2017 di­perkirakan mencapai 5,3 persen. “Prospek perekonomian global di­perkirakan akan membaik,” ujar Jokowi di ruang rapat paripurna, Jakarta, Selasa kemarin.

Agus juga menyambut positif target inflasi sebesar 4 plus minus 1 persen yang dicanangkan pemer­intah untuk 2017 mendatang. “Itu membuat kami nyaman,” ujar Agus, kepada Tempo, usai upacara perin­gatan hari kemerdekaan Indonesia ke-71 di kantornya, Kompleks BI, Thamrin, Jakarta, kemarin.

Agus menambahkan target inflasi ini sejalan dengan arahan Presiden Joko Widodo ketika rapat koordinasi nasional Tim Pengen­dali Inflasi Daerah (TPID) beberapa waktu lalu.

Ketika itu, Presiden Jokowi me­minta seluruh elemen baik pemer­intah pusat, pemerintah daerah, termasuk BI untuk menjaga inflasi level 4 plus minus 1 persen. Presiden Jokowi sebelumnya menyampaikan inflasi di asumsi makro dalam Ran­cangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2017 dipre­diksi berada di kisaran 4 persen.

Menurut Jokowi, penguatan konektivitas nasional dapat men­ciptakan efisiensi sistem logistik. Dampaknya, harga komoditas dapat lebih stabil.

Nilai tukar rupiah diasumsikan sebesar Rp 13.300 per dolar Ameri­ka Serikat. Jokowi mengatakan kerangka pendalaman pasar keuan­gan diharapkan dapat mempenga­ruhi arus modal masuk ke pasar keuangan.

Terkait dengan asumsi rupiah itu, Agus mengatakan dia me­nyepakati berada di pilihan level tersebut, sebab masih berada di kisaran prediksi BI yaitu Rp 13.300- 13.600. “Kami bisa memahami, dengan catatan itu adalah rata-rata sepanjang tahun,” kata dia.

Agus berharap perbaikan ini ter­us berlanjut. Dia pun berpesan ke­pada seluruh jajaran dan pegawai BI untuk selalu bersemangat melaku­kan yang terbaik mengawal mon­eter dan perekonomian Indonesia. “Ekonomi Indonesia mulai tunjuk­kan perubahan, mari semangat membangun negeri,” tandasnya.(*)

 

loading...