BOGOR TODAY – Mandeknya proyek-proyek kegiatan pembangunan di sejumlah dinas instansi di Kota Bogor, disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satunya karena adanya pihak yang mengendalikan proyek proyek tersebut. Kabar berkembang, tim sukses pemenangan Bima Arya atau orang yag berada di ring 1 Balaikota Bogor melakukan berbagai intervensi penguasaan pengerjaan. 
Pengamat kontruksi dan pembangunan, Torik Nasution mengungkapkan, berdasarkan hasil pengamatan dan investigasi  di lapangan, ada tiga kubu atau pihak yang berkepentingan terkait proyek proyek pembangunan di Kota Bogor.
Contohnya pada proyek di Dinas PUPR, sampai saat ini ratusan proyek masih mandek dan belum didistribusikan. Tiga kubu yang berkepentingan itu diantaranya, kepentingan dinas atau SKPD, kepentingan legislatif DPRD dan kepentingan Walikota Bogor yang bekerjasama dengan pengusaha.
“Ada tiga kubu yang berkepentingan dalam proyek itu, seperti proyek pokir di Dinas PUPR, peranan masing masing kubu sangat penting, dan yang paling berperan adalah kubu Walikota melalui tim suksesnya yang ikut andil dalam mengatur ngatur proyek di dinas. Saya punya data lengkap dan kita juga siap buka-bukaan,” tegas Torik, kemarin.
Ia mengatakan, diduga timses Walikota memiliki peranan penting, bahkan ada nilai proyek sebesar Rp20 milyar di Dinas PUPR yang diatur-atur oleh mereka beserta pengusaha yang dibawanya. Nilai itu dari total Rp96 milyar untuk proyek Pokir tahun 2017 di Dinas PUPR dengan jumlah paket sebanyak 700 paket proyek. “Sangat jelas dengan banyaknya kepentingan itu, menghambat pendistribusian proyek kepada perusahaan yang sebenarnya seharusnya mendapatkan proyek tersebut,” jelasnya.
Sementara, dalam pertemuan Satgas Kadin Kota Bogor yang dihadiri oleh Ketua Satgas Kadin Agus Lukman didampingi Tumpal Panjaitan, Eko Laksono, Dadat Suryawijaya,  Rizal, Agus Junaedi, dan Jaelul membeberkan, bahwa terhambatnya pendistribusian paket paket proyek dibawah Rp200 juta, selain dikarenakan adanya campur tangan timses Walikota dan DPRD Kota Bogor. Ada oknum anggota DPRD yang melakukan jual beli proyek dengan pengusaha, sehingga dinas terkait menjadi kebingungan pada saat pendistribusian proyek. 
Satgas Kadin telah mendapatkan laporan dari salah satu pengusaha yang juga anggota asosiasi, terkait adanya praktik jual beli proyek yang dilakukan oleh oknum anggota DPRD Kota Bogor. Paket yang diperjual belikan sebanyak 5 paket diantaranya untuk pembangunan saluran air, talud, jalan dan TPT. Semuanya proyek itu berlokasi di wilayah Kecamatan Bogor Utara, dan proyek berada di Dinas PUPR untuk pekerjaan tahun 2017. Pengusaha tersebut sudah menyerahkan sejumlah uang kepada oknum anggota DPRD itu, nilai yang diberikan di setiap proyek yaitu sebesar 10 persen. Pihak pengusaha itupun mengaku kecewa dan akan segera melaporkan perbuatan oknum anggota DPRD itu kepada pihak berwajib. “Sudah satu tahun ini, oknum anggota DPRD Kota Bogor itu tidak kunjung memberikan proyek juga, padahal pengusaha itu sudah menyetorkan uangnya. Praktik jual beli proyek oleh oknum anggota DPRD ini salah satu penyebab terhambatnya pendistribusian proyek, ditambah lagi oleh ulah oknum lainnya seperti timses Walikota yang juga turut bermain dalam proyek,” beber Tumpal Panjaitan.
Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kota Bogor, Sopian membantah keras adanya tudingan praktik jual beli proyek oleh anggota dewan. Sopian menjelaskan, pihaknya tidak mengetahui berbagai kegiatan fisik, karena kewenangannya ada di dinas terkait.
“Untuk kegiatan kegiatan fisik yang memiliki kewenangan adalah dinas dan dewan hanya mengusulkan saja. Jadi tidak ada jual beli proyek atau apapun oleh anggota dewan. Untuk kegiatan pokir atau aspirasi, kita hanya mengusulkan ke dinas instansi dan itupun sudah sesuai aturan. Setelah itu, dinas yang berwenang dan melaksanakannya,” bantah Politisi Gerindra ini.(Yuska Apitya)
loading...

10 KOMENTAR

  1. kaya bogor today berita berita terikinnya membahas kejelekan kejelakan bima arya terus ya

  2. kalo uda ada bukti kenapa ga langsung di buka aja mas , jangan tong kosong nyaring bunyinya

Comments are closed.