Konspirasi Terorisme untuk ‘Cicak Senior’

 

Oleh : Yuska Apitya Aji Iswanto S. Sos

Mahasiswa Pascasarjana Hukum Universitas Pamulang (Unpam) Tangerang Selatan. ***

 

Petang menjelang terang yang awalnya berlangsung hening dan tenang itu berubah menjadi gaduh. Langkah kaki Penyidik senior Komisi Anti Rasuah, Novel Baswedan, mendadak terhenti saat bertapak kaki menuju rumah usai shalat subuh di Masjid Al-Ikhsan, Jakarta. Dua orang misterius yang berboncengan motor seketika mendekat dan menyiram air keras ke wajahnya. Novel lari menghindar, pengendara motor itu kabur.

Pertanyaan yang muncul di kalangan public adalah, pesan apa dan utusan siapa dua orang itu? Beragam spekulasi menyasar nalar masyarakat, baik yang melek hukum ataupun yang awam soal hukum ataupun politik. Sebagai Kasatgas kasus korupsi e-KTP, Novel tak bergeming atas proposal pengamanan nama tertentu di balik skandal megakorupsi yang merugikan negara Rp2,3 triliun. Selain itu, juga ada yang menyebut Novel dipilih melalui serangkaian simulasi untuk menguras keseluruhan perhatian publik. Tujuannya, ada yang ingin senyap melakukan operasi di minggu tenang Pilkada DKI Jakarta putaran dua. Untuk apa pun itu, yang jelas, aksi burtal terhadap Novel pagi ini adalah kebengisan dan kekejian yang tidak bida dibenarkan dengan akal pikiran sehat.

Kasus Novel ini memang patut diramaikan mengingat banyaknya kasus kematian tak wajar para kritikus kekuasaan. Masih ingat Munir yang ‘dilelapkan’ dengan arsenik, atau Wiji Tukul yang hilang tak berjejak hingga hari ini. Ada juga yang dipertontonkan secara brutal, seperti Miroslava Breach yang ditembak mati di depan anaknya, karena menginvestigasi hubungan organisasi kriminal dan politisi di Meksiko. Para penembaknya meninggalkan pesan, “Karena banyak bicara.” Novel, tak sekali dua kali mendapat teror yang serupa. Ia telah berulang kali diintimidasi, tabrak lari, hingga peristiwa keji subuh ini. Mati pun, ia syahid dan bakal dikenang.

Perkara yang ditangani KPK dalam dekade anyar ini adalah mega korupsi E-KTP. Insiden Air Panas untuk Cicak Senior (Novel Baswedan) ini Tepat sehari setelah Setya Novanto, selaku saksi,  dicekal untuk keluar negeri oleh KPK, Novel Baswedan diserang dengan air keras dan harus dilarikan ke rumah sakit. Mungkinkah penyerangan ke Novel terkait kasus E-KTP? Untuk ruwetnya teori konspirasi jawabannya belum ada yang pasti.

Apapun teori konspirasi terorisme ini sedianya menjadi pekerjaan rumah bagi Polri untuk mengusut tuntas, siapa dalang dan pelakunya. Serangan sadis terhadap Novel harus diakui adalah upaya nyata untuk meneror indepensi KPK dalam mengawal penyimpangan kinerja elite penguasa.

Ini adalah momentum bagi Polri untuk membuktikan kepada public bahwa tiada lagi istilah Cicak Versus Buaya. Lembaga kepolisian sudah sepatutnya tetap berpijak untuk membela kewibawaan negara.

Upaya penghancuran dan pelemahan terhadap KPK harus diakui nyata adanya. Pelbagai dalih dan politisasi untuk merevisi UU KPK tak sekali dua kali digaungkan elite politik di Senayan. Fenomena ini menyimpulkan bahwa Negara kita tak siap untuk diajak berevolusi kea rah yang lebih baik. Jika public hanya bias diam melihat keadaan seperti ini, sudah dipastikan, KPK bakal tinggal nama. #SaveKPK

loading...