JAKARTA TODAY- Komisi Nasional Hak Asasi Manusia mengecam keras tindakan penyiraman air keras ke penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan. Komnas HAM menilai, aksi ini merupakan bentuk kelalaian negara atas penegakan hukum di Indonesia. “Kasus ini menunjukkan negara lemah dalam penegakan hukum,” kata Komisioner Komnas HAM, Natalius Pigai di Jakarta, Selasa (11/4).

Natalius mengatakan, kasus yang menimpa mantan Kasat Reskim Bengkulu tahun 2004 itu disebabkan kelonggaran negara dalam memberantas korupsi di Indonesia. “Kalau negara konsisten maka kasus Novel Baswedan tidak terjadi,” kata Natalius.

Natalius mengatakan, sebagai penyidik yang gencar melawan korupsi, keselamatan Novel memang rentan untuk dibalas oleh oknum yang kenyamanannya terusik. Sebagai pembelajaran, kata Natalius, Presiden Joko Widodo harus mampu melindungi setiap penegak hukum terutama penyidik KPK yang rentan mendapat perlawanan. “Memang salah satu aspek yang dicermati bahwa tindakan itu memperlihatkan penegak hukum yang konsisten melawan korupsi rentan mendapat perlawanan,” ucap komisioner asal Papua ini.

Natalius mengatakan agar kepolisian cepat mengungkap pelaku maupun aktor di belakangnya. Dia menegaskan agar polisi membongkar kejahatan dan menangkap pelaku sehingga tak terulang lagi ke depan. “Pelaku harus dihukum berat dan termasuk yang menyuruh,” kata Natalius.

Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Laode Muhammad Syarif menuturkan, jajarannya akan rapat koordinasi bersama kepolisian terkait permintaan perlindungan terhadap penyidik KPK, setelah terjadi insiden Novel. “Kami meminta Bapak Kapolri memberikan dukungan untuk perlindungan, akan ada penjagaan ekstra untuk penyidik-penyidik sekarang,” ujar Laode.

Ketua KPK Agus Rahardjo mengatakan stadar operasi dan prosedur pengamanan bagi para penyidik di KPK memang sudah diatur. Novel pun mendapatkan fasilitas pengamanan yang sama. Namun dengan kejadian ini, Agus menegaskan SOP pengamanan terhadap para penyidik akan diperkuat. “Sebenarnya ada di internal KPK tapi ini akan kami perkuat lagi,” ujarnya.

Sementara Kapolda Irjen Iriawan mengatakan, Novel sebenarnya didampingi petugas keamanan di setiap aktivitasnya sebagai penyidik KPK. Namun saat kejadian penyiraman air keras subuh tadi, pengamanan terhadap Novel tak ada. Hal tersebut dikonfirmasi langsung oleh Iriawan kepada Novel saat bertemu di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading. Iriawan mengatakan, Novel sendiri yang meminta pengamanan terhadap dirinya tak perlu dilakukan saat salat subuh di masjid. “(Pengamanan) ada dan itu saya tanyakan kenapa tak ditempel terus. Pak Novel mengatakan, ‘Nanti saja’,” kata Iriawan saat ditemui di kantor Kemenko Polhukam, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta. (Yuska Apitya)

loading...