bahagia-fotoOleh: Bahagia, SP., MSc. Lahir disebuh desa di Kabupaten Kampar Riau. Karyanya telah terbit secara lokal dan Nasional. Kini Dia dipercaya menjadi dosen Universitas Ibn Khaldun Bogor-Jawa Barat
Baru saja bell sekolah berbunyi. Sekolah kami terletak pada sebuah kota yang sangat ramai. Kami semua masuk ke ruang sekolah. Seperti biasanya, kami tidak langsung belajar kepada materi pelajaran. Buk Ani biasanya bercerita dulu tentang cerita yang menarik pada jaman dahulu. Maklumlah buk Ani memang salah satu guruku yang sudah sangat sepuh. Dia merasakan betul bagaimana indahnya desa jaman dahulu.
Dia selalu bercerita kepada kami bagaimana dia berangkat sekolah jaman dulu. Berjalan bersama-sama dengan teman-temannya. Naik sepeda ontel jaman dulu. Tertawa bersama dan pulang bersama-sama. Katanya lagi, desa jaman dulu hijau dan sejuk. Beda dengan desa jaman kini yang sudah mulai panas dan pengab. Pohon-pohon sudah mulai habis katanya.
Buk Ani juga bercerita kepada kami kalau dia anak petani. Dia senang bermain di sawah dengan teman-temannya. Kami hanya bisa membayangkan saja apa kata buk Ani. Maklumlah kami sudah sulit menemukan kondisi lingkungan seperti apa kata buk Ani. Kami sulit melihat hamparan sawah yang luas dan hijau. Padi yang menguning di hamparan sawah yang luas juga hampir tidak pernah kami lihat lagi.
Sehari-hari kami hanya bermain pada lorong sempit. Beda dengan buk Ani yang sempat merasakan keindahan bagaimana kuningnya padi yang siap panen. Aku tidak kebayang sama sekali kalau kami masih seperti dijaman buk Ani. Indah sekali kami rasa hidup ini. Aku juga ingat cerita paling baru dari buk Ani tentang “hamparan kuning padi siap panen”. Waktu itu kata dia, ayahnya memanen dengan ketam padi. Sebuah alat panen tradisonal yang dilupakan oleh orang katanya.
Kemudian padi itu dia kumpulkan sebelum diikat kembali dan dimasukkan pada lumbung padi. Katanya, saat itu dia bermain sepuas-puasnya karena banyak juga sarang burung yang bersarang pada batang padi. Akhirnya dia katakan kepada kami jadilah kalian petani. Semua sentak tertawa kepada buk Ani. Hanya aku yang diam waktu itu. Sama sekali tidak mau aku ketawa. Apa yang dikatakan buk Ani mulai meresap dalam jiwaku.
Ibu Ani sedikit naik pitam. Semua temanku yang tertawa itu dapat jeweren dari buk Ani. Hanya aku yang tidak dapat jeweran. Hanya saja dia menatapku lama. Aku jadi takut. Kemudian dia bertanya kepadaku.
“Mengapa Engkau tidak ikut tertawa”?. “Aku bingung buk kataku”.
“soalnya apa yang ibu katakan tidak ada yang lucu!”
“Yah engkau paling pintar dari yang lain”.
Aku jadi bingung perkataan buk Ani. Katakanlah kemarin sore aku dapat ponten lima. Sedangkan kemarinnya lagi aku dapat ponten 3 untuk pelajaran matematika. Teman-temanku yang tertawa tadi semua dapat delapan. Teman-temanku tertawa lagi mendengar buk Ani bilang kalau aku yang pintar. Teman-teman memang sungguh keterlaluan pikirku. Aku akhirnya naik pitam.
“Diam kalian semua kataku”, “kalian tidak sopan dengan buk Ani”. “Aku pembela buk Ani kataku”.
“Aku teriak”. “Mereka akhirnya terdiam”.
Buk Ani memegang kepalaku. “Anak yang baik rupanya tidak selalu bisa dinilai dari pontennya”.
Langsung buk Ani bilang, “Kehancuran bangsa katanya karena banyak anak pandai namun tidak bermoral”. Selain itu, dia juga bilang. “Kehancuran suatu bangsa karena negerinya tidak mencintai petani dan tidak mau menjadi petani”. “Akhirnya banyak orang kelaparan. Jadi hidup dan matinya suatu bangsa bergantung kepada petani”.
Semua anak-anak dikelas itu akhirnya diam. Esok harinya kelas kami sudah mulai berubah. Buk Ani tidak mau lagi bercerita tentang desa, petani, dan sawah. Dia juga memberhentikan tidak lagi mau bercerita tentang permainan kelereng pada jaman dulu. Tepatnya hari selasa pukul tujuh lewat tiga puluh menit, kami juga terdiam semua dalam satu kelas. Aku juga melihat teman sekelasku. Kami saling pandang. Sempat buk Ani menegur kami dengan nada yang marah waktu itu.
“Ada apa buk Ani kok jadi begini pikirku?”. “Adakah yang salah dalam perangai kami?”.
“Aku sudah membuat barisan begitu rapi saat sebelum masuk kelas. Kami juga sudah mencium tangannya sebelum masuk”.
“Bahkan kami juga sudah mengutip sampah yang ada dipinggiran halaman sekolah. Kami juga membuang sampah pada tempat yang telah disediakan. Kelas juga sudah bersih. Meja buk Ani juga sudah kami beri farfum paling wangi. Kami beli dari uang khas. Satu pot bunga hidup juag sudah kami letakkan dimeja buk Ani. “Lantas apa yang salah mengapa dia jadi diam dan tidak mau bercerita lagi”?.
“Aku benar-benar tidak paham dengan ini. Tiba-tiba buk Ani menyediakan dua puluh lembar kertas putih sesuai dengan jumlah kami. Sama seperti dua hari tempo yang lalu. Perintahnya sangat sederhana. Dia menyuruh kami untuk menceritakan bagaimana keadaan desa kami. Kemudian tuliskan cita-cita yang ingin dicapai. Kami kembali menuliskan cita-cita kami. Semua sudah kami tuliskan.
Ntah kenapa pelajaran belum juga dimulai. Buk Ani nampak memeriksa satu persatu dari cita-cita kami. Dia langsung ucapkan salam dan mengatakan hari ini tidak ada kelas. Kami yang masih kecil-kecil sangat bingung. Maklumlah kami masih kelas enam SD. Esok harinya buk Ani juga tidak masuk sekolah. Besoknya juga tidak masuk sekolah. Kami akhirnya datang satu kelas ke rumah buk Ani. Rupanya buk Ani sedang sakit parah.
Umurnya sudah sangat tua. Gula darahnya kadang naik dan kadang turun. Akhirnya dia hampir saja stroke. Untunglah masih bisa disembuhkan mekispun mulut buk Ani miring sebelah. Atas permintaan kami agar buk Ani mau lagi mengajar kami. “Dia benar menangis dan kalian akan tau apa yang membuatku begini?”
“Kalian akan tau nanti bagaimana nasib petani kita dan kalian akan menyesal suatu saat nanti”. Desa kalian yang indah ini nantinya jadi gersang dan penuh dengan Industri. Aku perwakilan dari teman-teman, langsung memandu mereka semua dengan serentak. Serentak kami mengatakan kalau kami yang salah. Buk Ani bertanya balik. Kalian salah apa kepadaku? Kalian tidak salah apapun. Kami juga bingung dengan pertanyaan buk Ani.
Singkat cerita luluslah kami akhirnya dari tingkat SD. Aku ketemu lagi dengan buk Ani waktu aku duduk di bangku SMP. Dia bertanya ulang kepadaku, apakah engkau masih ingat pesanku dulu waktu engkau masih SD? Sempat aku diam, ingat buk kataku. Ibu bilang kalau suatu saat nanti bangsa kita bisa terjatuh lantaran orang jarang mau jadi petani. Baik kalau engkau masih ingat. Baguslah. Sampai aku dirumah, aku heningkan lama dalam kepalaku.
Apa maksud dari buk Ani itu pikirku?. Setelah lulus SMP, aku dan teman-temanku sudah jarang sekali bertemu. Ada yang berangkat ke Medan untuk melanjutkan sekolah level tingkat atas. Ada yang pergi ke Aceh. Sebagian lagi memilih mondok di pesantren besar di padang panjang Sumatra Barat. Sedangkan aku berangkat sekolah ke Karawang Jawa Barat.
Disanalah aku menyelesaikan sekolah level tingkat atas. Waktu lebaran, semua teman-temanku pulang dan telah dinyatakan diterima di perguruan tinggi ternama tanah air. Kebanyakan mereka seneng mengambil program Teknik, ekonomi dan fakultas hukum. Sedangkan aku mengambil fakultas pendidikan. Semua teman-temanku rupanya sama dengan aku. Kangen dengan buk Ani. Kami datang ke rumahnya.
Kami tercengang melihat buk Ani. Umurnya sudah hampir 80 tahun. Masih lihai sekali mencangkul lahan dihalaman rumah. Dia sedang menanam sereh, kunyit dan beberapa tumbuhan obat. Kami langsung menyalaminya. Dia tidak segan-segan memeluk kami. Satu persatu kami berpelukan denganya. Kami langsung disuruh masuk duluan kedalam rumah. Buk Ani sudah tinggal sendirian. Suaminya sudah meninggal dunia.
Setelah kami duduk di kursi panjang miliknya. Buk Ani membawa air putih untuk kami. Dia kemudian duduk. Aku pikir dia akan bercerita lagi tentang ceritanya yang dulu. Rupanya benar. Dia langsung bertanya kepada kami tentang cita-cita kami. Dengan senang hati semua teman-teman bercerita kalau mereka telah diterima di pergurun tinggi.
Aku heran dengan buk Ani. Mengapa dia tidak senang dengan kami? Rawut wajahnya malah memerah dan ingin marah. Nampak dia tahan dari rawut wajahnya. Suasana tidak lagi ramah. Dasarnya aku, masih saja aku berani bertanya kepadanya, mengapa ibuk tidak seneng? langsung kami melihat sebuah surat kabar. Kami langsung diam. Katanya, engkau lihat itu? semua teman-teman tidak mengerti apa maksudnya.
Aku hanya melihat sebuah surat kabar dengan foto gunung yang gundul. Nampak pula kayu-kayu berterbangan menuju jurang karena ditebang pakai mesin. Aku baru tau maksudnya buk Ani itu. Aku hubungkan lagi dengan ceritanya waktu kami masih SD dulu. Aku baru ingat kalau buk Ani memang lulusan sekolah pertanian jaman Belanda. Kalau saat ini bisa dikatakan Sekolah Pertanian Menengah Atas.
Sekolah yang tidak lagi jelas dimana rimbanya. Kami juga tidak mau memilihnya. Kuliah dalam bidang pertanian juga kurang diminati. Jelas sudah apa maksud buk Ani ini pikirku. Aku tidak mau memperburuk suasana. Aku bilang, kami salah buk kataku. Ya sudah kalau engkau sudah tau. Kau masih ingatkan, engkau selalu bilang salah sejak dulu itu? maafkan kami buk! Maafkan teman-temanku. Masih saja temanku belum mengerti.
Kata buk Ani, kalian akan menyesal suatu saat nanti. Aku tidak ingin suasana makin buruk. Aku ajak semua. Semua pulang ke rumah masing-masing. Setelah sekian lama kuliah berlalu, aku akhirnya kebagian kuliah kerja nyata di sebuah desa di Karawang Jawa Barat. Aku sengaja memilihnya agar aku tidak sulit membaca lokasi. Suasana desa tiba-tiba ramai setelah dua bulan kami KKN (kuliah kerja nyata).
Anak mahasiswa yang KKN disana dimintai solusi. Rupanya petani sedang dilanda becana besar. Hama wereng datang menyerang padi petani. Ulat grayak bertabur dimana-mana. Tikus seperti tidak lagi takut kepada manusia.  meskipun kami ada ditengah sawah. Tikus tetap berani mengerat batang padi. Kami disuruh oleh kepala desa untuk menyelesaikan masalah petani itu. Kami hanya diam. Maafkan kami pak Kades kataku dan kepada semua petani yang ada disini. Kami tidak tau apa penyebab hama ini.
Sambil mataku berkaca. Semua mata petani yang ada hadir juga ikut berkaca matanya. Aku calon sarjana Ekonomi pak. Air mataku makin deras. Ntah kenapa terbayang wajah buk Ani. Aku seperti teriilusinasi. Aku ingat dia menujukkan surat kabar tempo dulu. Aku ingat apa yang jadi pesannya. Sebenarnya dia ingin kalau kami jadi sarjana pertanian. Dasa aku yang tau tetapi tidak aku lakukan.
Semua petani disana menangis. Pulang dengan kecewa. Aku sedih sekali waktu itu, aku berdoa kepada Allah agar aku diampuni dosanya? Aku merasa gagal membangun bangsa ini. Aku merasa salah besar dengan guruku. Kini dia sudah meninggal. Bagaimana aku meminta maaf kepadanya?. Berkali-kali penyuluh pertanian datang ke pos kami. Satupun tidak bisa memberikan solusi. Rupanya dia penyuluh tetapi bukan dari sarjana pertanian.
Kerjaannya selama ini menyuluhkan pestisida saja. Dia juga menyesal sekali? Apa kaitannya itu katanya. Aku juga diam. Aku tidak tau kaitannya apa, antara penggunaan pestisida dengan banyaknya hama. Bulan ketiga aku kuliah kerja nyata disana. Banyak aku lihat dept kolektor datang. Menyita televisi milik petani. Perkelahian didepan rumah. Bahkan ada petani yang mau bunuh diri lantaran jeratan hutang. Rupanya mereka sudah punya hutang banyak lantaran mengikuti sistem ijon.
Pemberi modal takut tidak balik modal sehingga petani dipaksa untuk bayar. Ini semua kesalahan kami guruku. Maafkan kami, kami rupanya orang paling pembangkang terhadap guru. Aku heningkan lagi. Bagaimana pula dengan realita negeri ini pikirku. Mereka yang sarjana pertanian malah tanam beton!, mereka yang sarjana pertanian malah kerja dibank!. Masih mending aku pikirku.
 
 
loading...