BANDUNG TODAY- Jawa Barat pada Maret 2017 mengalami inflasi sebesar 0,08%. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat Doddy Herlando menjelaskan, sumbangan, inflasi terjadi dari tujuh kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi yaitu kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau sebesar 0,06%, kelompok perumahan, air, listrik, gas & bahan bakar sebesar 0,30%, kelompok sandang sebesar 0,11%, kelompok kesehatan sebesar 0,13%, kelompok pendidikan, rekreasi & olahraga sebesar 0,14%.
Sementara yang mengalami deflasi yaitu Kelompok Bahan Makanan sebesar 0,14% dan Kelompok Transpor, Komunikasi & Jasa Keuangan sebesar 0,01%.
“IHK gabungan jabar yang meliputi 7 kota yaitu Kota Bogor, Kota Sukabumi, Kota Bandung, Kota Cirebon, Kota Bekasi, Kota Depok dan Kota Tasikmalaya mengalami kenaikan indeks. IHK dari 125,77 di Februari 2017 menjadi 125,87 di Maret 2017, dengan demikian terjadi inflasi sebesar 0,08%,” kata dia di Gedung BPS Jabar, Senin (3/4).
Berbeda dengan kondisi pusat pada Maret 2017 yang mengalami deflasi sebesar 0,02 % dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 128,22. Dari 82 kota IHK, 49 kota mengalami deflasi dan 33 kota mengalami inflasi.
Dirinya menjelaskan, laju inflasi tahun kalender Januari ke Maret 2017 sebesar 1,21% dan laju inflasi dari tahun ke tahun tercatat sebesar 3,37 %. Dari tujuh kota pantauan IHK di Jawa Barat Maret 2017, lima kota mengalami inflasi yaitu Kota Bogor sebesar 0,09%, Kota Sukabumi sebesar 0,23%, Kota Bekasi sebesar 0,23%, Kota Depok sebesar 0,05% dan Kota Tasikmalaya sebesar 0,03%.
“Dua kota mengalami deflasi yaitu Kota Bandung sebesar 0,02%, dan Kota Cirebon sebesar 0,12%,” ujar dia.
Sementara itu Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Barat pada Marat 2017 (2012 =100) sebesar 102,37 atau turun sebesar 0,16% dibandingkan NTP Februari 2016 yang tercatat sebesar 102,53.
“Penurunan NTP tersebut disebabkan oleh penurunan Indeks Harga Diterima Petani sebesar 0,08% sementara indeks Hanga Dibayar Petani naik sebesar 0,08%,” kata dia.
Pada Maret 2017 ada empat subsektor pertanian mengalami penurunan NTP yaitu NTP Subsektor Tanaman Pangan turun 0,55% dari 95,85 menjadi 95,32, NTP subsektor perikanan turun sebesar 0,25% dari 101,1 menjadi 101,16.
NTP Subsektor Peternakan turun sebesar 0,19% dari 113,30 menjadi 113,08. NTP Subsektor Hortikultura turun 0,17 % dari 110,56 menjadi 110,37, sementara NTP Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat naik sebesar 1,31% dari 96,39 menjadi 97,66.
“Di Daerah Perdesaan Jawa Barat Konsumsi Rumah Tangga pada Marat 2017 terjadi inflasi sebesar 0,11%,” ujarnya.
Empat dari tujuh kelompok pengeluaran mengalami inflasi tertinggi terjadi pada Kelompok Kesehatan yang inflasi sebesar 0,63% diikuti KeIompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok & Tembakau 0,59%, kelompok perumahan inflasi sebesar 0,36% dan kelompok sandang inflasi sebesar 0,17% sementara kelompok bahan makanan deflasi sebesar 0,24% kelompok transponasi & komunikasi sebesar 0,13% dan kelompok pendidikan, rekreasi & olahraga deflasi sebesar 0,02%.
Ada pula pada Maret 2017, harga rata-rata Gabah Kering Panen (GKP) di Tingkat Petani Jawa Barat sebesar Rp. 4.223.06, per kilogram atau turun 0,38% dibandingkan harga GKP Februari 2017 Rp. 4238.99, Gabah Kering Giling (GKG) di tingkat petani turun 2,40% dari Rp. 4.975,86 menjadi Rp. 4.856.67 per kilogram, dan untuk gabah kualitas rendah turun 5.65% dari Rp. 3993,90 menjadi Rp. 3.768,33 per kiIogram.
Maret 2017 rata-rata harga beras di tingkat penggilingan Rp. 9.455,86 per kilogram atau turun 1.17% dibandingkan Februari 2017 yang tercatat Rp. 9,568.02. Berdasarkan patahan beras. Kualitas Beras Premium naik 1,59% dari Rp. 9936,49 menjadi Rp. 10.094,92 sedangkan Medium turun 3,38% dari Rp. 9,334.09 menjadi Rp. 9018.55 dan Beras kualitas Rendah turun 10,75% dari Rp. 8.900.00 menjadi Rp. 7.942,86.(Yuska Apitya)
loading...