IMG_1726Catatan Spritual Perjalanan Umroh (Bagian-2)

Dalam perjalanan dari Dubai ke Madinah, saya banyak mendengar cerita dari kawan yang pernah umroh dan berhaji. Kawan itu berkisah betapa dia tak bisa membendung tangis ketika melihat Ka’bah. Tangis itu, katanya, pecah begitu saja tanpa bisa dikontrol. Dalam hati, apakah saya juga bisa menangis? Karena rasanya sudah puluhan tahun saya tak bisa menangis, termasuk saat ibunda dan ayahanda wafat.

Sesampai di Madinah, saya merasakan sesuatu yang berbeda. Rasa senang dan bahagian tiba-tiba muncul. Pada saat memasuki pelataran Masjid Nabawi, rasa bahagia itu disempurnakan dengan munculnya rasa damai dan tenang di dalam hati. Saya dan rombongan Almalik berpisah. Kami memasuki Masjid Nabawi melalui pintu yang berbeda karena waktu sudah cukup malam, mendekati jam 24.00 waktu setempat. Pikiran saya cuman satu, ingin mendekat ke Makam Rosulloh SAW.

Di dalam Masjid Nabawi tampak sangat ramai, namun tak terlalu padat. Saya mengambil posisi di shaf yang tampak longgar. Baris kedua. Rupanya saya masuk lewat Babussal, pintu utama yang tembusannya ke Makam Rosulullah atau Raudloh. Saya baru sadar berada di daerah sekitar Raudoh ketika selepas solat subuh ribuan jamaah berebut menuju satu titik yang berada di sebelah kiri saya. Karena penasaran, saya mengikuti arus besar jamaah itu. Subhanallah ternyata itu jalan menunju Raudloh dan Makam Nabi Muhammad SAW.

Tak mudah melakukan solat sunah atau berdoa di Raudoh karena ribuah jamaah juga berlomba untuk melakukan hal yang sama.  Saya pun solat sunah dua rakaat dan berdoa sesuai dengan kondisi saat itu. Yang terpenting di tempat luar biasa seperti ini kita memohon ampuan atas segala kesalahan dan dosa-dosa kita. Astagfirullah hal adziiim….!

Suasana bathin yang terasa sangat kuat selama di Madinah, saya selalu ingin berada di Masjid Nabawi. Entah itu siang maupun malam. Pada saat berada di dalam Masjid Nabawi terasa sangat tenang dan suasana hati sangat senang. Taka da rasa capek atau ngantuk. Laparpun sering tak terasa. Seorang teman mengingatkan agar tetap makan teratur agar staminta tetap terjaga. ‘’Biar nanti pada saat di Mekkah kita tetap kuat dan sehat, karena ibadah umroh itu membutuhkan kekuatan fisik juga,’’ kata Ustadz Uus, salah satu pendamping jamaah.

Bagi saya, Madinah adalah kota yang sangat damai dan sangat menyenangkan. Penduduknya, termasuk para pedagang di sekitar Masjid Nabawi tampak sangat ramah dan selalu menyapa hangat dengan salam. (Alfian Mujani|bersambung)

loading...