JAKARTA TODAY- Harga minyak melemah 1 persen pada perdagangan Rabu (22/2) waktu Amerika Serikat (AS) seiring meningkatnya kecemasan pelaku pasar akan meningkatnya persediaan minyak mentah AS. Hal ini bisa menghambat organisasi negara-negara pengekspor minyak (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) yang optimistis bahwa kenaikan harga minyak akan terjadi.

Dikutip dari Reuters, analis sempat memperkirakan persediaan minyak akan meningkat 3,5 juta barel pada pekan lalu. Sehingga, harga minyak Brent ditutup melemah US$0,82 ke angka US$55,84 per barel dan harga minyak West Texas Intermediate (WTI) juga ikut melemah sebesar US$0,74 ke angka US$53,59 per barel. Kendati demikian, pelemahan kedua harga minyak acuan itu tertahan setelah sesi perdagangan berakhir. Pasalnya, American Petroleum Institute (API) menunjukkan bahwa persediaan minyak malah turun 884 ribu barel per hari pada pekan lalu.

Pelaku pasar kini menanti data resmi persediaan minyak Energy Information Administration (EIA) yang rencananya terbit pada hari Kamis pukul 11.00 waktu setempat. Meski khawatir akan persediaan yang meningkat, analis dan pelaku pasar optimistis bahwa kenaikan harga akan tetap sinambung.  Hal itu terlihat dari jangka waktu antar kontrak di pasar berjangka (contango). Selama dua tahun kelebihan suplai minyak, contango terbilang lama mengingat harga minyak saat ini pasti akan jauh lebih murah dibanding harga masa depan. Namun, rentang waktu contango semakin menipis sejak OPEC memutuskan untuk memangkas produksi di awal tahun. Ini membuktikan bahwa pembatasan produksi bisa meningkatkan harga minyak dan meredam dampak kelebihan penawaran. Pada Selasa lalu, Sekretaris Jenderal OPEC Mohammad Barkindo mengatakan organisasi kartel minyak itu beserta Rusia akan meningkatkan kepatuhan terhadap kebijakan pemangkasan produksi. Kendati demikian, Goldman Sachs memprediksi bahwa harga minyak Brent dan WTI pada kuartal II mendatang masing-masing hanya ada di kisaran US$57 per barel dan US$55 per barel. Angka ini lebih kecil dibanding perkiraan sebelumnya yaitu US$59 per barel dan US$57,5 per barel.(Yuska Apitya/reuters)

loading...