IMG-20170214-WA0004Catatan Spiritual Perjalanan Umroh

Oleh Alfian Mujani

(Bagian-1)
Dulu, saya sering senyum-senyum ketika mendengan cerita agak aneh-aneh dari sahabat yang baru pulang berhaji atau umroh. Senyum-senyum lantaran setengah tak percaya dengan apa yang mereka alami. Tapi kini giliran saya yang ditertawakan karena mengalami banyak hal yang mungkin di luar nalar selama menjalankan ibadah umroh di Makkah. Berikut ceritanya:

Satu tahun terakhir ini, sebetulnya saya tidak memiliki kemampuan finansial untuk melakukan perjalanan ke luar negeri. Apalagi melaksanakan ibadah umroh yang membutuhkan waktu minimal 10 hari. Tentu biayannya tak sedikit. Sementara usaha yang sedang saya rintis di Bogor, yakni korang harian Bogor Today dan Bogor-Today.com masih terseok-seok dan membutuhkan biaya yang cukup besar. Karena itu, niat saya untuk menjalankan ibadah umroh hanya disimpan di hati. Namun saya niatkan dengan sungguh-sungguh dan keinginan untuk mengunjungi Tanak Suci Makkah terasa sangat kuat.

Saking kuatnya keinginan itu, setiap habis solat saya selalu membayangkan suasana di sekeliling Ka’bah seperti yang sering ditayangkan televisi. Hingga suatu hari yang tak pernah terbayangkan ada seseorang dari salah satu perusahaan milik Harry Tanoesoedibyo—pemilik kerajaan bisnis media MMC Group—menawari trip ke Jepang. ‘’Terimakasih atas undangannya, tapi saya tidak tertarik pergi ke Jepang. Kalau jalan-jalannya ke Mekah saya mau, sekalian umroh,’’ jawab saya sekenanya kepada orang yang ngajak ke Jepang itu. Pada saat itu, orang tersebut tak memberi riaksi yang berarti. Dia hanya tersenyum.

Hingga suatu hari, orang yang ngajak jalan-jalan ke Jepang itu dating kembali dan bilang bahwa keinginan saya pergi ke Mekah bisa diwujudkan. Tentu, saya belum percaya karena mendengan banyak cerita bahwa untuk berangkat umroh sekarang ini butuh waktu, harus menunggu antrean. Karena itu, ketika sahabat itu minta paspos dan foto diri saya, saya tanggapi biasa-biasa saja. Di luar dugaan, seminggu kemudian saya mendapat undangan dari Biro Perjalanan Haji dan Umroh Almalik untuk mengikuti manasik. ‘’Ah, yang benar Mas, jangan becanda. Manasik untuk apa?’’ kata saya kepada orang travel yang menelepon.

Subhanallah, seminggu setelah manasik di sebuah hotel di Menteng, saya berangkat ke Abudabi untuk kemudian ke Madinah. Ini adalah keajaiban spiritual pertama yang saya alami di seputar perjalanan ibadah umroh. Bayangkan, di saat saya nyaris bangkrut secara ekonomi, justru saya bisa berangkat umroh. Padahal, tiga empat tahun sebelumnya saat saya berkecukupan secara materi, justru saya tak bisa berangkat ke tanah suci.

Dalam kaitan ini, Ustadz Hajmi, salah satu pembimbing Umroh dan Haji Almalik, memberi pencerahan bahwa perjalanan umroh dan haji ini bukan perjalanan biasa. Tetapi perjalanan yang membutuhkan keikhlasan dan kesungguhan dalam berniat. ‘’Banyak orang kaya raya secara materi tetapi tak berangkat-berangkat berhaji dan umroh. Tetapi ada banyak orang biasa-biasa saja, bahkan masuk katagori miskin, mereka berangkat menunaikan ibadah haji dan umroh,’’ kata Ustadz Hajmi, ‘’Orang kaya itu tak bisa berangkat ke Mekah karena tidak berniat sungguh-sungguh dan ikhlas, karena itu mereka tidak dimampukan oleh Allah. Sementara mereka yang miskin itu niat dengan ikhlas dan sungguh-sungguh ingin memenuhi panggilan Allah, maka dengan segala keterbatasannya dia dimampukan oleh Allah untuk pergi ke Baitullah,’’ tambah Ustadz Hajmi. Sumbhanallah….(bersambung)

loading...