Menurut para alim dan cerdik bentuk kedengkian yang paling jelek adalah menghina orang lain demi meningkatkan nilai dirinya sendiri, mengungkap kekurangan orang lain demi menutupi kekurangan diri. Terapi untuk menyembuhkan penyakit dengki ini adalah dengan selalu menanamkan keyakinan dalam hati bahwa tak ada manusia tanpa kekurangan, termasuk diri kita sendiri. Indahnya hidup jika kita mampu mensinergikan kelebihan-kelebihan masing-masing kita untuk mengurangi dan menutupi kekurangan yang ada.

Seorang pedagang beras menghina beras milik pedagang pesaingnya, mencacinya sedemikian rupa agar pelanggan tidak lagi membeli beras milik pesaingnya itu. Dia lupa bahwa masyarakat sudah cerdas dan tak memiliki tabiat seperti dia. Para pemilik akal sehat, mata jernih dan telinga terng masih dengan baik dan jelas bisa menilai secara obyektif. Tetapi sang pendengki ternyata memang tak mampu mengobati, apalagi membunuh kedengkiannya sendiri sehingga dia tega merampas paksa beras milik pedagang lain itu.

Beras yang dijual orang lain itu tak salah. Pemiliknyapun tak salah. Yang salah fatal adalah yang merampas beras dan menganggap dengan tindakannya itu dia tak lagi memiliki saingan. Urusan dianggap jadi selesai. Maka, sang perampas beras itu dikutuk masyarakat penikmat beras berkualitas itu dan dibenci para petani yang selama ini diuntungkan oleh pedagang beras itu.

Jauh-jauh hari Baginda Rasulullah Muhammad sudah berpesan, “Hati-hatilah dengan iri hati dan dengki.” Jalan hidup sudah ditentukan oleh Allah, bagian kita tak akan jatuh ke tangan orang lain. Bagian orang lain tak akan tersesat masuk ke lumbung kita. Hadapilah dengan dua hal utama, yakni syukur dan sabar.

Memilih jalan selain syukur dan sabar hanya akan menciptakan masalah-masalah baru, yakni iri hati, dengki dan turunannya. Tapi celaanya, banyak orang beranggapan bahwa untuk menyembunyikn masalah lama dengan mencitakan masalah baru. Itulah yang sering kita saksikan akhir-akhir ini. (*)

loading...