JAKARTA TODAY- Bank Negara Indonesia Syariah (BNI Syariah) mulai meningkatkan porsi pembiayaan ke sektor produktif dan diperkirakan akan mencapai pangsa hingga 60 persen pada tahun 2020 hingga 2021 mendatang. Upaya tersebut sejalan dengan imbauan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang meminta bank-bank syariah lebih inovatif menyalurkan pembiayaan terutama ke sektor produktif.

Direktur Bisnis BNI Syariah, Dhias Widhiyati mengatakan manajemen membuat roadmap (peta) bisnis untuk mencapai target tersebut. Salah satunya adalah menumbuhkan pembiayaan ke perusahaan-perusahaan BUMN besar seperti Waskita Karya, Perum Pegadaian, Hutama Karya dan PLN.

Selain itu meningkatkan pembiayaan ke usaha kecil dan menengah (UKM) dalam bentuk supply chain financing atau menggarap perusahaan supplier, distributor dari nasabah inti induk perusahaannya yakni BNI. “Model pembiayaan seperti ini lebih terukur risikonya karena debitornya perusahaan BUMN yang menggarap proyek-proyek infrastruktur pemerintah.

Apalagi, risikonya sudah diassesment oleh BNI sebagai holding,” kata Dhias dalam pemaparan kinerja anak perusahaan BNI tersebut di Jakarta, Kamis (20/4).

Sementara itu, Direktur Utama BNI Syariah Abdullah Firman Wibowo mengatakan pembiayaan BNI Syariah pada triwulan I tahun 2017 tumbuh 17,8 persen secara year on year (yoy) dari 18,04 triliun rupiah menjadi 21,26 triliun rupiah. Dari total pembiayaan tersebut, porsi terbesar kata Firman ke pembiayaan konsumtif sebesar 56,1 persen, disusul oleh pembiayaan kepada Usaha kecil menengah (UKM) 21,07 persen dan pembiayaan komersial sebesar 17,73 persen. Sedangkan, pembiayaan mikro di luar konsumtif 3,6 persen, dan pembiayaan kartu Hasanah Card 1,59 persen. “Pembiayaan konsumtif sebagian besar pada produk KPR Syariah yakni Griya iB Hasanan sebesar 85 persen,” kata Firman.(Yuska Apitya)

 

loading...