2581515971523---11_05_2010JAKARTA,TODAY-Bank Indone­sia melaporkan transaksi repo antarbank mencapai nilai ter­tinggi sebesar Rp3 triliun pada 16 Agustus 2016. Transaksi itu merupakan pencapaian yang terbaik jelang pemberlakuan suku bunga kebijakan baru 7-day Reverse Repo Rate pada 19 Agustus 2016.

Kepala Departemen Pengembangan Pendalaman Pasar Keuangan BI Nanang Hen­darsah mengatakan pencapaian nilai itu merupakan tertinggi sepanjang tahun ini berjalan. Dia terus mendorong seluruh bank di Indonesia menggunak­an repo dalam transaksi pinjam meminjam atau lending borrow­ing di pasar uang.

“Edukasi diberikan dalam bentuk workshop mengenai cara bertransaksi, pengelolaan risiko, serta penatausahaan agunan dan penyelesaian trans­aksi,” katanya, di Jakarta, Rabu (17/8/2016).

Tahun lalu, rata-rata tran­saksi repo per hari sekitar Rp 600 miliar. Sementara, awal ta­hun ini transaksi repo sempat menurun bahkan nihil karena adanya pelaksanaan Global Master Repurchase Agreement (GMRA) yang dikeluarkan oleh Otoritas Jasa Keuangan.

Dia menyebutkan saat ini se­banyak 64 bank teah bergabung dalam skema perjanjian GMRA Indonesia. Nanang memperki­rakan beberapa kantor cabang bank asing juga akan bergabung dalam skema tersebut beker­jasama dengan IFEMC (Indone­sia Foreign Exchange Market As­sociation).

GMRA adalah standar per­janjian transaksi Repo dan Re­verse Repo yang diterbitkan oleh International Capital Mar­ket Assosiation (ICMA).

“Yang sudah masuk GMRA ada empat bank Persero, em­pat bank campuran, 29 bank simpanan nasional, dan 26 bank pembangunan daerah. Bank as­ing belum ada, nanti akan ma­suk dua bank asing pada Jumat (19/8),” ucapnya.

BI juga tengah melakukan sosialisasi dan edukasi ke selu­ruh bank termasuk Bank Pem­bangunan Daerah (BPD) di se­luruh wilayah. Saat ini, 26 BPD telah menandatangani skema GMRA Indonesia dengan bank buku 4. Sebanyak 27 bank su­dah aktif melakukan transaksi repo, namun hanya bank buku 4 yang teraktif. (Imam/bisnis. com)

loading...