Di sudut masjid pukul 02.30 terasa sangat damai dan sunyi. Namun entah kenapa air mata mengalir deras membasahi pipi. Gambar perjalanan hidupku muncul begitu jelas dari A hingga Z, dari masa kanak-kanak hingga saat ini. Tiba-tiba saja aku begitu merindukan kehadiran ayah dan ibu yang saat ini telah menjadi penduduk alam barzah. Banyak orang yang melihatku bahagia karena bisa pergi ke mana pun yang aku suka, mendapatkan apa saja yang aku mau.  Tahukah wahai saudara bahwa pencapaianku adalah berkah doa, usaha dan air mata kedua ayah ibu.

Setelah mereka tiada, kita baru tahu indahnya senyuman mereka. Setelah tak mungkin lagi kita bertemu di dunia ini, baruterasa betapa nikmatnya mencium tangan ayah dan ibu. Setelah terlambat, baru kita sadari bahwa kebahagiaan diri yang sesungguhnya adalah ada pada kebahagiaan ayah dan ibu. Ketulusan mereka dalam mendidik dan membimbing kita sungguh tak mungkin tergantikan.

Sungguh berdosanya saat sadar ternyata kita belum bisa berbuat apapun untuk mereka. Ya Rabb ampuni ayah bunda, dan tempatkan mereka di Jannatunaim. Sungguh berbahagia mereka yang masih memiliki pintu surga di rumahnya, yakni kedua orang tuanya. Jangan sia-siakan ayah bundamu. Tatapan mata ayah bunda adalah penuh kasih sayang, getaran suaranya sungguh menggugah jiwa. Ketika mereka telah tiada, kemana ketulusan dan kelembutan itu akan kita cari? (*)

loading...