Oleh: Ahmad Agus Fitriawan

(Guru MTs. Yamanka & Pengurus KKMTs. Kec. Rancabungur

Kab. Bogor)

Menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa pada tahun 2017, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 143,26 juta jiwa. Angka tersebut meningkat dibandingkan pada tahun sebelumnya, yakni tahun 2016 yang tercatat mencapai 132,7 juta jiwa.

Berdasarkan jenis kelamin, komposisi pengguna internet di Indonesia adalah 51,43 persen laki-laki dan 48,57 persen perempuan. Adapun berdasarkan usia, sebanyak 16,68 persen pengguna berusia 13-18 tahun dan 49,52 persen berusia 19-34 tahun. Sementara itu, persentase pengguna internet berusia 35-54 tahun mencapai 29,55 persen. Pengguna internet berusia 54 tahun ke atas mencapai 4,24 persen.

Berdasarkan tingkat pendidikan, sebanyak 88 persen pengguna internet di Indonesia merupakan lulusan S2 atau S3, kemudian 79,23 persen merupakan lulusan sarjana atau diploma. Pengguna internet yang merupakan lulusan SMA atau sederajat mencapai 70,54 persen. Adapun pengguna internet lulusan SMP atau sederajat mencapai 48,53 persen dan lulusan SD atau sederajat mencapai 25,10 persen. (https://ekonomi.kompas.com/read/2018/02/19/161115126/tahun-2017-pengguna-internet-di-indonesia-mencapai-14326-juta-orang

Ini mengindikasikan bahwa saat ini dunia internet telah menjajah para penggunanya. Ia seakan tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari. Bahkan ada yang menganggap hidup tidak lengkap tanpa keberadaannya. Sebelum tidur menulis status di medsos, bangun tidur mengecek whatsapp, blog, facebook, twitter, instagram, dan email di HP, saat makan, di jalan, di kendaraan umum bahkan saat kumpul-kumpul dengan teman dan keluarga, tidak bisa lepas dari dunia internet dan kecanggihan teknologi gawai. Dia telah menjadi candu dan penjajah bentuk lain saat ini.

Adalah Steve Jobs tokoh penting dalam dunia teknologi, khususnya Apple, yang berhasil menciptakan dan mengembangkan produk iPhone, iPad, dan iPod, namun melarang anak-anaknya menggunakan teknologi tersebut. Jobs khawatir anak-anaknya terkena dampak negatif penggunaan teknologi yang diciptakannya. Demikian halnya dengan orang terkaya di dunia, Bill Gates. Pendiri Microsoft ini melarang anak-anaknya memiliki handphone sebelum usia 14 tahun. Bahkan ketika anaknya Jennifer berusia 20 tahun, Rory berusia 17 tahun, dan Phoebe berusia 14 tahun memegang gawai, Gates tetap mengawasinya dengan ketat. Gates juga melarang anak-anaknya membawa gawai saat makan bersama keluarga dan sebelum tidur.

Apa yang dilakukan oleh pakar teknologi tersebut merupakan sebuah contoh yang harus diteladani oleh guru dan orang tua agar anak didiknya tak tenggelam dalam dunia tanpa batas. Aktivitas anak-anak dalam dunia maya akan sulit dipantau bila guru dan orang tua terlambat melakukan pengawasan. Karena itu, dalam mendidik anak jangan sampai peran guru dan orang tua dikalahkan oleh gawai.

Para guru dan orang tua tidak boleh merasa acuh dan abai dari keingintahuan terhadap dunia internet dan kecanggihan teknologi gawai, bahkan menganggap sulit terhadapnya. Sekarang prinsip itu harus diubah.

Pertama, harus mau mengenal internet dan teknologi. Sebagai guru dan orang tua jangan segan dan malas untuk belajar segala sesuatunya mengenal teknologi. Cari tahu dan pahami perangkat atau jenis gawai apa yang sedang dikuasai anak.

Kedua, lakukan komunikasi dan pendekatan. Setiap anak memiliki sifat yang berbeda. Cara mereka menerima perkataan orang tua dan guru pun berlainan. Terkadang mereka enggan dinasehati orang tua dan guru, karena mereka seperti digurui. Guru dan orang tua harus jeli mencari celah dalam dalam pendekatan ke anak. Sampaikan informasi mengenai penyebab dan akibatnya yang membahayakan jika terjadi pada mereka. Sebaiknya pilih waktu yang tepat untuk menyampaikan hal penting ini. Bicaralah saat suasana hati anak tengah bagus.

Ketiga, batasi penggunaan internet dan gawai. Membatasi penggunaan internet dan gawai merupakan salah satu upaya agar anak tidak terlena tipu muslihat dunia maya dalam gawai. Jika anak butuh alat komunikasi, belikan handphone dengan perangkat standard dan tidak berlebihan. Begitupun dengan internet. Sebelum diaktifkan, sebaiknya batasi situs yang dapat dibuka anak dengan mengatur perangkat komputer. Tanyakan hal ini pada ahlinya. Jika membatasi gawai yang digunakan, kitapun para guru dan orang tua harus melakukan hal yang sama pada diri kita sendiri. Tidak adil bukan, jika kita melarang anak menggunakan gawai, sementara kita sendiri asyik dan lupa waktu menggunakannya.

Keempat,  ajari anak untuk menghargai anggota tubuh. Banyak predator dunia maya yang memancing remaja untuk memperlihatkan tubuhnya melalui saran yang terdapat di media tersebut. Berikan penjelasan sebab akibat mendetail, termasuk kerugian yang akan dialami anak jika tidak menghargai tubuhnya dengan mengumbar anggota tubunya.

Kelima, hindari intimidasi. Jangan terlalu berlebihan mewaspadai anak, misalnya dengan terus menerus mendampinginya menggunakan internet. Hal ini justru akan membuatnya tak memiliki ruang pribadi dan ia bisa berontak. Sekali-kali bolehlah kita memantaunya, bisa juga ikut serta nimbrung jika anak sedang berkumpul dengan teman-temannya. Dengan begitu kita akan mengetahui sejauhmana pergaulan dan apa yang tengah digandrungi anak. Jika terjalin komunikasi dan pendekatan yang baik dalam memberikan informasi mengenai bahaya teknologi gawai, nicsaya anak jadi bisa melindungi dirinya sendiri. Tentu ini akan mengurangi kekhawatiran kita. (*)

loading...