Untitled-4MAKKAH, TODAY—Kabar duka kembali datang dari tanah suci. Dua jamaah dilaporkan menin­ggal dunia per 21 Agustus 2016 kemarin, atau hari ke-13 jamaah berada di Arab Saudi. Mereka adalah Muhammad Tahir bin Ab­dul Razak dan Siti Maryam binti Ismail.

Berdasarkan data Sistem In­formasi Komputerisasi Haji Ter­padu Kesehatan (Siskohatkes), Muhammad Tahir bin Abdul Razak (68) embarkasi BTH kloter 011 meninggal pada 20 Agustus pukul 12.15 di RSAS Madinah. Al­marhum yang memiliki nomor paspor B 3236096 akibat cardio­vascular disease.

Sementara Siti Maryam Binti Ismail (60) asal embarkasi SOC kloter 001 dengan nomor paspor B 2733533 dilaporkan mening­gal dunia pada 21 Agustus pukul 00.59 di Masjidil Haram juga akibat cardiovascular disease. Sehingga total jamaah meninggal

dunia per 21 Agustus 2016 berjum­lah 16 orang.

Berikut rekap data lengkap jamaah haji yang wafat per 21 Agustus 2016:

  1. Senen bin Dono Medjo (79), laki-laki. Kloter 007 Embarkasi Surabaya.
  2. Siti Nurhayati binti Muhammad Saib (68), perempuan. Kloter 002 Em­barkasi Aceh.
  3. Martina binti Sabri Hasan (47), perempuan. Kloter 006 Embarkasi Batam.
  4. Khadijah Nur binti Imam Nurdin (66), perempuan. Kloter 004 Embar­kasi Aceh.
  5. Dijem Djoyo Kromo (53), perem­puan. Kloter 18 Embarkasi Solo.
  6. Sarjono Bin Muhammad (60), laki-laki. Kloter 006 Embarkasi Batam.
  7. Oom Eli Asik (66), perempuan. Kloter 003 Embarkasi Jakarta-Bekasi.
  8. Nazar Bakhtiar bin Batiar (82). Kloter 001 Embarkasi Padang.
  9. Juani bin Mubin Ben (61). Kloter 006 Embarkasi Aceh.
  10. Asma binti Mian (78). Kloter 001 Embarkasi Padang.
  11. Tasniah binti Durakim Datem (73). Kloter 003 Embarkasi Padang.
  12. Jamaludin bin Badri Kar (58). Kloter 005 Embarkasi Palembang.
  13. Abdullah bin Umar Gamyah (68). Embarkasi Aceh kloter 001.
  14. Rubiyah binti Mukiyat Muntari (71). Embarkasi Surabaya kloter 020.
  15. Muhammad Tahir bin Abdul Razak (68) Embarkasi BTH kloter 011
  16. Siti Maryam binti Ismail (60), Embarkasi SOC kloter 001

Pelaksanaan ibadah haji me­mang belum mencapai puncaknya. Namun tim kesehatan harus bekerja ekstra keras untuk merawat para ja­maah yang rata-rata berusia lanjut. Hingga kemarin, tercatat mereka telah merawat 13.089 jamaah, baik di ban­dara, kloter, sektor, hingga Klinik Ke­sehatan Haji Indonesia (KKHI). Sistem informasi kesehatan haji tahun ini me­mang wajib mencatat semua layanan kesehatan para jamaah di mana pun. Data itu kemudian langsung dikirim ke penghubung kesehatan di daerah kerja, selanjutnya bisa diteruskan ke tanah air.

Semua Jenis layanan yang diberi­kan kepada jamaah wajib di catat. Tak hanya pengobatan di kantor ke­sehatan, tapi juga pengobatan pada saat aktivitas preventif mengunjungi jamaah-jamaah di pemondokan. Kare­na itulah, hanya dalam sebelas hari sejak kedatangan kloter pertama di Arab Saudi 9 Agustus lalu, data jumlah jamaah yang dirawat sudah mencapai 13 ribu lebih.

Mayoritas perawatan itu dilakukan di Madinah. Sebab, hingga kemarin mayoritas jamaah haji Indonesia masih berada di Kota Nabi itu. Data tim kese­hatan di Makkah baru menunjukkan lay­anan rawat jalan terhadap 268 jamaah dan rawat inap untuk lima jamaah.

Khusus untuk jamaah yang me­merlukan perawatan lebih lanjut. Mer­eka akan dikirim Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI). Sebagian menjalani rawat jalan, sebagian lagi menjalani rawat inap. Hingga kemarin total jamah yang pernah menjalani rawat inap mencapai 94 orang.

”Fasilitas tempat tidur di KKHI itu ada 57. Tiap hari hampir selalu penuh,” ujar dr Ihsan, spesialis penyakit dalam di KKHI madinah kemarin. Sebagian tempat tidur itu ditempati jamaah yang menjalani rawat inap, sebagian lagi untuk penanganan pasien yang bisa menjalani rawat jalan.

Menurut Ihsan, rata-rata jamaah yang menjalani rawat inap di KKHI su­dah punya riwayat penyakit dari tanah air. Biasanya berupa komplikasi hiper­tensi dengan diabetes mellitus. ”Sam­pai di sini (Arab Saudi), penyakitnya tambah parah dan harus rawat inap,” ujarnya.

Keluhan yang juga banyak ditan­gani KKHI adalah telapak kaki me­lepuh. Tiap hari selalu ada jamaah yang kehilangan sandal di Masjid Nabawi selepas salat Dhuhur dan Ashar. Mereka nekat pulang tanpa alas kaki, hingga akhirnya mengalami luka bakar di telapak kaki. ”Sudah jadi pe­kerjaan rutin kaki menangani jamaah yang kakinya melepuh,” terang Ihsan.

Sementara itu, jamaah haji yang meninggal di tanah suci terus bertam­bah tiap hari. Sejak 12 Agustus higga kemarin (20/8), jumlahnya mencapai 12 orang. Usia termuda 47 tahun, se­dangkan tertua 82 tahun.

Data di sistem informasi kesehatan haji menunjukkan, jamaah yang per­tama pertama meninggal adalah Senen Bin Donomedjo. Jamaah berusia 79 tahun itu tergabung dengan kloter 7 embarkasi Surabaya. Senen mening­gal pada 12 Agustus. Setelah itu, setiap hari selalu ada jamaah yang meninggal.

Dua hari terakhir, misalnya. Dua jamaah dilaporkan meninggal di dua tempat berbeda. Jamaah kloter 1 embarkasi Surabaya Rubiyah Mukiyat Muntari, 71, meninggal pada 19 Agus­tus di Masjid Nabawi. Sementara pada 20 Agustus, jamaah kloter 20 embar­kasi Aceh Abdullah Umar bin Umar, 68, meninggal di pemondokan.

Kloter Terakhir Tiba Selasa

Sementara itu, kelompok terakhir untuk gelombang I pemberangkatan haji diperkirakan mendarat di Ban­dara AMAA Madinah pada Selasa 23 Agustus 2016.

“Kloter terakhir gelombang perta­ma BDJ 14 dengan nomor penerbangan SV5901 Saudi Airlines akan tiba pukul 12.25 WAS dengan jumlah jamaah 300 orang, termasuk petugas kloter,” kata Kepala Daerah Kerja Airport Jeddah-Madinah, Nurul Badruttamam Makkiy, Minggu (21/08/2016).

Sedang untuk kemarin, jamaah reguler tiba di Bandara AMAA Ma­dinah pukul 08.00 WAS atau sekira pukul 12.00 WIB. Terdapat 183 kloter dengan jumlah jamaah mencapai 73.823 orang beserta 915 petugas klot­er. Total terdapat 74.738 orang jamaah mendarat kemarin.

Sementara jamaah haji khu­sus yang mendarat di Tanah Suci dik­etahui berasal dari 20 Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK) dengan jumlah total jamaah mencapai 909 orang.

“Kloter pertama gelombang kedua mendarat di Bandara King Abdul Aziz Jeddah pada hari Selasa 23 Agustus 2016, yaitu Kloter SOC 35 dengan penerban­gan Garuda Indonesia tiba pukul 09.40 WAS dengan jumlah jamaah 360 orang termasuk petugas kloter,” ucap Nurul.

Sementara itu, gara-gara kehabisan kuota haji tahun ini, 177 warga negara Indonesia (WNI) nekat menggunakan paspor Filipina untuk berangkat ke Tanah Suci. Tapi malang, petugas imigrasi Filipina membongkarnya. 177 WNI asal Sulawesi Selatan itu dicegah beberapa saat sebelum mereka me­naiki pesawat Philippine Airlines (PAL) dengan nomor penerbangan PR 8969 tujuan Madinah di Bandara Interna­sional Ninoy Aquino, Manila, Jumat (19/8) dini hari. Kepala Imigrasi Fili­pina Jaime Morente menyebut, praktik ilegal itu terbongkar setelah pihaknya curiga ke-177 orang itu tak berbahasa Filipina.

“Mereka membaur dengan rom­bongan haji negara kami. Tapi tak satu pun dari mereka yang bisa pakai ba­hasa Filipina atau Tagalog. Bahasa In­ggris pun dipandu,” ungkap Morente seperti dilansir Philipina Stars.

Setelah dicecar petugas, akhirnya mereka mengaku WNI. Mereka ma­suk ke negara itu sebagai turis sejak beberapa pekan lalu. Bersama mereka ditangkap pula 5 orang warga Filipina yang diduga adalah pendamping. Ke­lima warga Filipina itu diyakini sebagai sindikat pemalsu paspor dan telah ditahan oleh Biro Investigasi Nasional (NBI) untuk diselidiki lebih lanjut.

Dari pendamping ini, 177 WNI mendapatkan paspor. Mereka harus merogoh kocek mulai dari 6 ribu hing­ga 10 ribu dolar AS per orang. Mereka kemudian ditahan di Camp Bagong Diwa, Taguig. Morente menyebut, semua jemaah dikenakan tuduhan me­langgar peraturan imigrasi

.(Yuska Apitya Aji)

loading...