BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Home / Opini Today / Urbanisasi, Kemiskinan Desa Berkelanjutan

Urbanisasi, Kemiskinan Desa Berkelanjutan

Oleh: Bahagia. Dosen Tetap Universitas Ibn Khaldun Bogor dan Sedang Mengikuti Program Doktor Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan IPB

Persebaran jumlah penduduk di Indonesia tidak merata. Pulau Jawa masih menjadi idola bagi seluruh penduduk di Indonesia untuk mengadu nasib. Sekitar 56,94 persen dari total penduduk di Indonesia tinggal dipulau Jawa. Luas pulau Jawa sangat sempit sehingga kepadatan penduduk menjadi persoalan diperkotaan. Satu sisi masih banyak pulau-pulau di Indonesia dimana penduduknya masih sangat jarang.
Banyak juga desa di Indonesia yang masih sangat sunyi dari penduduk. Bahkan sebagian pulau-pulau terpencil di Indonesia tidak berpenghuni. Jumlah penduduk yang banyak pada perkotaan berpotensi sebagai sumberdaya dan berpeluang sebagai penyebab masalah lingkungan. Sekaligus penyebab terhambatnya pembangunan pada beberapa pulau di Indonesia. Pada akhirnya kota-kota di pulau Jawa sudah sangat maju.
Berbanding terbalik dengan kota-kota di Papua, Kalimantan dan Sumatra. Masih banyak kawasan terpencil. Minim fasilitas publik seperti jalan, fasilitas kesehatan dan pendidikan. Desa-desa diluar Jawa sangat rentan dari keberlanjutan keterbelakangan. Sumber daya manusia sebagai penggerek ide, gagasan, inovasi dan kreativitas sangat kurang. Semua masih berpusat dan berada di pulau Jawa.
Sampai sekarang masih banyak penduduk menggunakan jalur sungai sebagai transportasi untuk pergi ke ladang seperti yang terjadi di pedalaman Kalimantan. Masalah ini tidak lain karena pembangunan jalan belum menjangkau daerah terpencil. Lebih ironis lagi pada saat masyarakat Indonesia masih banyak tinggal dihutan belantara. Mereka tinggal dihutan, Persoalan ini tidak wajar karena negeri ini sudah lama sekali merdeka.
Hanya saja banyak masyarakat belum merdeka dari keterbelakangan teknologi dan kehidupan moderen. Beberapa suku di Indonesia masih tinggal dihutan seperti suku Anak Dalam (Anak Rimba). Pemerataan sumberdaya berpusat di pulau Jawa berujung masalah kepada pulau lain. Pulau lain terhambat dibangun lantaran kurangnya sumberdaya manusia berkualitas.
Sudah bisa dibayangkan bagaimana kondisi perdesasaan diluar pulau Jawa. Meskipun di Indonesia sudah banyak pencetak Sarjana Pertanian, sosiologi, teknik, biologi dan ilmuwan lainnya tetapi masih minim pengabdian kepada daerah dipedalaman. Sedangkan orang yang tinggal disana ingin merubah nasib dengan kondisi yang sangat kritis. Realita kesulitan hidup membuat mereka berminat untuk pergi ke pulau Jawa.
Sebagian lagi mendiami kota-kota yang sudah berkembang karena pada realitanya desa dan daerah terpencil sulit sebagai tempat kehidupan. Ketimpangan ini menyebabakan masalah pada pembangunan kedepannya. Desa dan wilayah terpencil terus mengalami keterbelakangan. Sedangkan perkotaan terus semakin maju dan jenuh dengan teknologi, ide dan kreativitas. Mudah juga untuk memperolah kebutuhan bahan pokok seperti beras, sayur-sayuran dan buah-buahan sangat banyak.
Industri terbangun dimana-mana. Peluang kerja menjadi kuli dan karyawan tumbuh menjamur. Masalah lain berbarengan muncul pada saat perkembangan ekonomi pesat dikota. Sampah berserakan dan menggunung diperkotaan. Rumah-rumah berdempetan dan menimbulkan bencana banjir perkotaan. Daerah resapan air tidak cukup untuk menampung seluruh air hujan yang turun. Terus pula terjadi pengurangai ruang sebabai daerah resapan air untuk kepentingan rumah dan pembangunan Industri.
Bagaimana kondisi perkotaan suatu saat nanti. Sekarang saja tidak lagi dipungkiri kalau banjir selalu melanda perkotaan. Tanah dikota sudah padat, mampet dan lubang pori-pori tanah sudah tertutup. Hujan turun tidak lagi terinfiltrasi kedalam tanah. Meskipun tidak dipungkiri kalau runoff (aliran permukaan) tidak terhindarkan. Setidaknya kalau lebih banyak air hujan terserap dibandingkan dengan air terbuang maka banjir berkurang.
Tekanan penduduk akan semakin parah sebab kecerdasan dari setiap warga belum tumbuh. Dirinya belum bisa menyelesaikan sampahnya sendiri. Masih harus dibuang dan kemudian membajiri tempat pembuangan sampah. Sudah seharusnya meniru perilaku di alam semesta. Semua bermanfaat untuk makhluk hidup yang lain. Kotoran dari makhluk hidup berguna untuk makhluk hidup yang lain dan menambah kesuburan tanah sebab semua kotoran termasuk humus tanah. Perilaku tadi menjadi contoh bagi manusia bagaimana mengelola sampah agar zero waste.
Disamping itu, manajeman perkotaan kurang baik. Masih plin plan untuk merencanakan ruang hijau. Pohon yang tadinya sudah besar pada pinggiran jalan raya kemudian harus ditebang dalam hitungan menit. Rumah-rumah penduduk tadinya masih ada ruang hijau dan sawah masih produktif tetapi harus tergilas pembangunan jalan raya. Semua akibat kurangnya kecerdasan membangun perkotaan.
Rupanya kecerdasan spritual juga rendah sebab tidak diyakini bahwa dirinya telah kurang melakukan tindakan sedekah pada saat pohon ditebang. Siapapun yang menebang pohon maka sudah berkontribusi untuk membuat kerusakan. Produksi oksigen berkurang dan penyerapan polusi atau pencemaran berkurang akhirnya pencemaran tinggi. Selain itu, pohon diperkotaan bisa menyerap air, menyimpan air, dan menghambat air agar tidak mengalir dipermukaan.
Sementara diperdesaan dan orang yang tinggal didesa sudah menunggu inovasi baru untuk membangun desa. Pada umumnya penduduk didesa sangat terbuka untuk dirubah menuju kehidupan yang baik. Sedangkan pemeirntah tidak melakukan pemerataan pembangunan sampai saat ini. Penting untuk melakukan distribusi terhadap dumberdaya manusia. Dengan adanya sumberdaya itu diharapkan dapat merubah penduduk yang minim pengetahuannya.
Berubah menuju masyarakat dengan penuh ide dan kreatif. Selain itu, pembangunan fasilitas pasar, kerjasama, dan menghubungkan dengan perkotaan. Desa dan perkotaan harus terhubung. Perkotaan menjadi pusat pasar untuk berbagai produk yang berasal dari desa. Sedangkan desa tetap dipertahankan dengan nilai sosial, budaya dan ekologis desa. Pembangunan desa sangat identik dengan pembangunan pertanian, industri pertanian, dan industri kecil serta menengeh.
Pengembangan pertanian sangat baik di desa karena sebagian besar penduduk di Indonesia petani. Sumberdaya alam didesa juga sangat mendukung pembanguan pertanian. Selain itu, penduduk desa yang bergelut dibidang pertanian menjadi pengusaha pada usaha sendiri sehingga tidak memunculkan perbudakan moderen. Seseorang yang menjadi direktur pada usaha taninya secara langsung memandirikan diri sendiri.
Sedangkan indikator masyarakat dikatakan sudah berdaya jika masyarakat sudah mandiri dan bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Negara akhirnya semakin makmur dan menjadi negara maju. Pengeluaran negara jelas berkurang sehingga dapat dipergunakan untuk peruntukannya lainnya. Selama ini kesalahnnya terletak kepada kesalahan dalam memberdayakan manusia. Selalu mengejar industri besar padahal industri yang dibutuhkan masyarakat yaitu Industri Agro sesuai dengan karakter sosial dan ekologis desa.

About Novie Widia Astuti

Check Also

PKS Beri Sinyal Dukung Ridwal Kamil di Pilgub Jabar

BANDUNG TODAY- Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) belum memutuskan nama yang akan didukung dalam pergelaran Pemilihan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Bogor-Today.com