BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Home / Opini Today / Tetangga dan Pagar Besi

Tetangga dan Pagar Besi

RUMPUT hijau dan pohon itu sudah habis. Kicauan burung dipagi hari tidak lagi terdengar. Sudah nampak rumah mewah dan megah. Nampak pula rumah kumuh diperkampungan sekitar perumahan. Jurang si kaya dan si miskin nampak kontras. Anak-anak yang tadinya bermain layang-layang disana. Kini tidak lagi ada cerita itu. Sikap orang-orang sudah berubah.
Mereka hidup seperti tidak saling kenal. Tetanga didepan rumah sampai tidak kenal. Orang-orang yang tinggal diperumahan itu sibuk dengan kerjaan kantoran. Sebagian sibuk mengurusi bisnis. Rumah-rumah nyaris tertutup setiap saat. Rumah dan pagar hanya terbuka saat pemilik berangkat kerja dan pulang kerja. Rumah dan pagar juga terbuka kalau pembantu belanja kebutuhan rumah tangga.
Pagi itu tepatnya pukul enam, lewatlah pedagang sayur didepan rumah elit setelah melobi satpam jaga. Pembantu pak tarsim memanggil dari dalam rumah. Tukang sayur berhenti. Pembantu pak Yono juga ingin membeli kebutuhan dapur. Pak Yono bertetangga dengan pak Tarsim. Rumah mereka saling berhadapan. Pak Tarsim seorang pengusaha besar. Pak Yono pemilik perusahaan dan sekaligus seorang direktur. Keduanya orang sibuk. Sejak rumah dibangun, kedua pembantu itu tidak mau tegur sapa.
Setelah membeli sayur-sayuran, pembantu pak Yono langsung masuk rumah. Pembantu pak Tarsim sangat heran. Dengan dibantingnya pintu rumah bersamaan dengan masuknya pembantu pak Yono. Sampai terdengar jelas. Anak majikannya yang masih kecil juga dibawa masuk.
Seraya berkata, “jangan bergaul dengan orang itu, dia orang jahat”.
“Papa nanti marah”, anak itu ikut saja dengan pembantu.
Pembantu pak Tarsim masuk dan tukang sayurpun heran. Setelah enam bulan. Rasa jenuh datang secara alamiah. Manusia butuh pergaulan. Pembantu pak Yono merasa kesepian. Hidupnya terasa seperti dikurung. Sibuk mengurusi anak pak Yono, istrinya dan pak Yono sendiri. Dia merasa seperti dikurung oleh majikannya. Pak Yono selalu melarang kalau keluarga mereka tidak boleh bergaul. Terlebih sekarang musim kejahatan.
Pesan itu selalu tertanam dan seperti vonis dalam hidupnya sehingga dia tidak mau bergaul. Saling kenal saja dia tidak mau. Apalagi setelah dia lihat banyak kejadian pembunuhan ditelevisi. Suatu ketika, hujan sangat deras. Air hujan luber masuk kesemua rumah pada kawasan itu. Air hujan tidak dapat terserap. Lahan hijau tadi habis buat rumah sehingga terjadi kebanjiran. Saluran-saluran air tersumbat karena banyak sampah.
Saluran Air menuju kampung juga tersumbat. Anak-anak kampung mengambil bata-batanya dan menutupnya dengan tanah. Pembantu sibuk menjemur karpet ke pagar tembok dan besi. Saat itu pembantu pak Tarsim saling pandang dengan pembantu pak Yono. Pembantu pak Yono langsung masuk lagi ke rumah. Seperti menunggu pembantu pak Tarsim selesai menjemur. Pembantu pak Tarsim sengaja pula ingin menunggu agar pembantu itu keluar lagi.
Dia selalu teringat dengan nasehat guru ngajinya dikampung. Tetangga termasuk modal hidup. Dalam agama tetangga itu termasuk penentu sukses atau tidaknya seseorang untuk hidup. Dia benar teringat dengan kata-kata itu. Dia langsung mendatangi rumah pak Yono. Dia ketuk pintu dan ucapkan salam. Pembantu itu keluar. Langsung mereka berjabat tangan. Saling kenalan. Seperti mereka ingin berkenalan selama ini.
Mulai hari itu, mereka selalu berkomunikasi. Kalau ada tukang sayur langsunglah mereka bercerita disitu. Termasuk menceritakan seperti apa pria idaman masing-masing. Rencana menikah, asal usul, dan hobinya apa. Begitupun kedua anak pak Yono dan pak Tarsim. Hari itu sudah mulai komunikasi. Anak pak Tarsim selalu datang ke rumah pak Yono. Seperti mereka ingin bersama pergi sekolah dan bermain bersama setiap hari.
Anak pak Yono laki-laki masih duduk dibangku SD kelas enam. Anak pak Tarsim duduk dibangku SD Kelas tiga dan perempuan. Keduanya seperti saling rindu dunia anak-anak. Saat mereka pulang sekolah. Mereka bermain berdu-duaan didepan rumah. Kadang mereka bermain didepan rumah pak Yono. Kadang bermain di depan rumah pak Tarsim. Anak perempuan pak Tarsim kadang mengikuti permainan dari anak pak Yono. Kalau dia main layang-layang maka anak pak Tarsim memegang layang-layang itu.
Mereka tertawa karena layang-layangnya jatuh dan tidak bisa terbang karena ruang jalan sempit. Saat itulah anak pak Yono kesenggol motor lantaran bermain dengan anak pak Tarsim. Pembantu memberi tau dan Pak Yono langsung pulang dan membawa ke rumah sakit. Dia bertanya kepada pembantu.
“Mengapa terjadi begini”?.
“Anak bapak bermaian dengan anak tetangga depan pak?”.
“Lho, aku sudah bilang, jangan berkenalan dengan tetangga sebelah”?
“Ini akibatnya karena kamu melawan apa kata-kataku!. “Maafkan saya pak, saya janji tidak lagi berkenalan dengan pembantu sebelah?.
“Awas kamu kalau masih berani bertamu dengan tetangga!”.
Nampak rawut wajah pak Yono marah sekali saat itu. Pembantunya diam saja. Setelah anak pak Yono sembuh. Pembantu pak Tarsim bercerita tentang pesan guru ngajinya tempo dulu. Rupanya pembantu pak Yono ingin bergaul hanya karena takut sehingga dia membatasi diri. Hari itu tidak disangka-sangka. Pak Tarsim ada dirumah. Pak Yono juga ada dirumah.
Pembantu pak Tarsim sudah cerita tentang kejadian yang menimpa anak pak Yono. Kebetulan hari itu libur. Hujan diluar sangat deras. Pohon-pohon tidak satupun menghalangi. Satu batang rumputpun tidak ada dihalaman rumah. Orang disana menganggap pohon dan rumput mendatangkan hewan seperti kalajengking, semut, dan kecoak.
Mereka anggap bencana bagi anak-anak kalau masuk ke rumah. Rumah akhirnya kebanjiran. Sibuklah hari itu mereka menjemur karpet dan membersihkan rumah. Saat pak Tarsim keluar menjemur karpetnya. Pak Yono langsung masuk kedalam rumah. Sambil mengintip dari ordannya. Saat pak Tarsim membersihkan lantai. Pak Yono masuk lagi. Sampai akhirnya dia kesal karena tidak bisa keluar-kelar dan pak Tarsim tidak masuk-masuk.
Pak Yono kemudian masuk kedalam mobilnya. Langsung dia panaskan mobil, dia gas sekuat-kuatnya, sampai asap keluar dan mengenai pak Tarsim. Dia emosi juga. Dia masuk dan dia banting pintu. Anak pak Yono keluar. Istri kedua laki-laki itu juga keluar. Setelah saling pandang. Mereka masuk lagi. Keadaan langsung senyap.

Kata pak Tarsim kepada Istrinya,
“Aku mau datang kepada tetangga sebelah, mungkin karena kita belum saling kenal makanya dia jadi begitu!”.
“Jangan dulu pak, soalnya masih emosi”.
“Mungkin karena anaknya sakit tempo hari?”.
“Benar apa katamu”.
Sementara pak Yono bilang kepada istrinya, “besok aku tinggikan tembok rumah ini? Pagar besi akan aku rapatkan lagi.
“Biar tidak lagi terlihat oleh tetangga depan itu!”.
“Mulai hari ini pembantu tidak boleh lagi belanja sayur didepan rumah”.
Kata istri pak Yomo, “pa, tidak baik seperti ini, mereka kan tetangga kita juga!”. “gimana kalau kita datang saja duluan, kita berkenalan”.
“Aku tidak sepakat, aku ini seorang direktur”. Harga diri turun kalau datang ke rumahnya?. “Sekarang mau bapak gimana?,
“tetap aku tinggikan pagar itu”.
Esok harinya sudah datang tukang bangunan. Semen sudah beberapa sak terkumpul. Batu batu sudah disiapkan didepan rumah. Alat las besi sudah disiapkan. Bisinglah hari itu dirumah pak Yono. Pagar tembok akhirnya terbangun. Setelah pagar tembok lebih tinggi terbangun. Dibangun lagi pagar besi yang lebih tinggi lagi dan terbuat dari baja. Seorangpun tidak lagi bisa melihat apa yang dilakukan oleh pak Yono didepan rumahnya.
Seorangpun tidak lagi bisa mengucapkan salam kalau terjadi apa-apa. Dia merasa tenang dengan kehidupan begitu. Dia menghirup sebatang rokok didepan rumah tanpa dilihat tetangganya. Dia menikmati hidup seperti itu. Tiba-tiba anaknya mau main. Dia bilang. “Pa, aku mau main dengan anak pak Tarsim”. “Nggak boleh, main dengan pembantu saja”.
“papa jahat, papa jahat kata anak itu”.
“Diam kamu hampir saja melayang tamparan ke anak itu”.
Dia lari dan menangis kepada pembantu. Saat semua tidak dirumah. Kedua pembantu itu merasa iba dengan anak-anak majikannya. Mereka kemudian datang bertamu. Mereka biarkan anak-anak bermain didepan rumah. Bermain kelereng. Main layang-layang. Bercerita tentang film-film yang dia sukai. Nampak sangat harmonis. Mereka tidak menyangka kalau pak Tarsim dan pak Yono datang. Langsung pembantu mengambil kedua anak itu.
Kedua anak tadi berteriak dan menangis karena dipaksa masuk oleh pembantu. Anak pak Yono memberikan kelerang itu kepada anak pak Tarsim. Anak pak Tarsim memberikan boneknya kepadanya. Sambil anak pak Yono berkata, “nanti kita main lagi ya kalau ayah kita lagi pergi”. “Ayahku bilang kalau ayahmu orang jahat”. Pak Tarsim diam. Pak Yono jadi ingat masa kecil nya di kampung tempo dulu. Sambil mereka diam melihat kedua anak itu.
Melihat pembantu sibuk membawa anak mereka kedalam rumah. Lantaran takut dengan majikan. Anak pak Tarsim yang masih kecil langsung bicara. “Pak kenapa sih kalian tidak bermain-main kayak kami?”. Pak Tarsim tidak menjawab karena masih ada pak Yono. Dia mendengar anak pak Tarsim. Ntah kenapa pak Yono membawa anaknya untuk bermain dengan anak pak Tarsim. Mereka saling berpelakukan berdua.
Saling meminta maaf. Besoknya rumah pak Yono ramai lagi dengan tukang. Kali ini tukang heran dan diperintahkan untuk merobohkan kembali pagar tembok dan besi tinggi itu. Tukang sibuk membeli bibit bunga, pohon rindang bertubuh pendek, rerumputan hijau dan tumbuhan pengusir nyamuk. Mulai hari itu pak Tarsim juga melakukan hal yang sama.
Rumah mereka tidak lagi kebanjiran. Setiap pagi pak Yono melambaikan tangan kepada pak Tarsim kalau dia sedang pergi. Anak mereka hampir setiap pagi dan sore bermain pada tanam depan rumah. Pembantu juga sibuk ngobrol setiap hari. Istri mereka hidup harmonis dengan tetangga. Tetangga yang lain juga melakukan hal yang sama.
Pagar mereka ganti jadi pagar hidup. Kawasan rumah elit itu jadi indah. Orang kampung juga tidak lagi terkena banjir karena perumahan elit itu. Mereka meruntuhkan pagar pemisah antara kampung dan rumah elit. Warga banyak yang bekerja pada juragan-juragan pada rumah elit. Mereka benar-benar hidup harmonis.
Bogor, Vila Bogor Indah, 08 Desember 2016
Bahagia, SP. MSc, lahir di Pagaran Tapah, Kabupten Kampar Riau. Menulis tulisan sederhana dan karyanya tersebar dimedia Lokal dan Nasional. Saat ini Ia dipercaya menjadi dosen Tetap Universitas Ibn Khaldun Bogor, Jawa Barat

About Novie Widia Astuti

Check Also

PKS Beri Sinyal Dukung Ridwal Kamil di Pilgub Jabar

BANDUNG TODAY- Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) belum memutuskan nama yang akan didukung dalam pergelaran Pemilihan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Bogor-Today.com