BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Home / Opini Today / Tangisan dan Kawah Biru

Tangisan dan Kawah Biru

HARI itu masih sangat pagi. Embun saja belum kering ditanah. Matahari masih nampak merah jingga diufuk Timur. Aku sudah bangun dan ingin jalan-jalan pagi. Kataku kepada recepcionist hotel. Adakah wisata terdekat didaerah sini?. Katanya ada, nama daerah wisata diberi nama Kawah Biru. Mendengar itu aku tidak membangunkan teman-temanku. Langsung saja aku sendiri pergi kesana dengan meminjam motor pekerja hotel.
Setelah perjalanan tiga kilometer. Sampailah aku pada daerah itu. Orang-orang belum ada disana. Penjaga kawan biru itu juga tidak ada. Daerah apa ini pikirku?. Aku ingin pegang air itu. Aku senang sekali dengan kawah itu?. Maha kuasa Alllah pikirku. Dia menciptakan danau dan kawah seluas ini. Aku lama terdiam. Kalau airnya ada mengapa tidak ada ikan?. Kemana perginya semua hewan dalam danau ini?. Ada apa ini dan air apa ini sebenarnya?. Seperti apa kejadian ini sehingga daerah ini jadi daerah beratus danau dan kawah.
Semua tidak terjawab karena tidak satupun pengunjung kesana. Seingatku daerah ini daerah kepulaun jadi tidak mungkin ada letusan gunung kemudian jadi danau. Penasaran dan heran aku dengan danau indah dan airnya berwarna biru. Sedikitpun tidak masuk akal dalam benakku. Langsunglah aku menemui Mima di hotel setelah aku kembali. Aku bilang tadi aku menemukan beratus-ratus kawah karena sengaja aku jalan-jalan pagi. Satu hewanpun tidak ada didalamnya. Kawah apa itu kataku? Dia malah tersenyum kepadaku.
Aku serius dan sedikit kesal. Hanya saja ia katakan, untung tadi kau tidak mandi didalamnya. Untung juga engkau tidak sentuh airnya. Dia senyum sambil bilang kawah itu bukan buatan Tuhan. Ah kau ini Mima sudah berani bercanda kataku. Benar kau akan tau suatu saat nanti. Aku desak dia tetapi malah Tabani menjawab. Wah kalau gitu itik juga tidak bisa berenang disitu. Aku langsung diam. Menatap mereka berdua. Kataku, mengapa kalian bercanda kepadaku.
Aku tidak mengerti mengapa itik tidak bisa berenang didalam kawasan danau biru itu. Seolah-olah kalian sudah tau. Aku berpikir kalau kalian hanya bercanda. Gia kata Mima. Kau ini mengapa tidak bisa tau? Kita kemari dalam rangka itu. Apa maksudmu Mami?. Apa maksudmu Tabani?. Untuk apa engkau mengajak kami kemari. Itulah yang aku Bingung Tabani. Begini Tabani seperti yang aku jelaskan kepadamu. Dedi tempo hari tiba-tiba saja meneloponku.
Sungguh aku tidak menyangka dia menelpon. Sudah lama sekali kami tidak bertemu. Dulu kami sempat satu perguruan tinggi saat masih jadi mahasiswa di kota Hujan Bogor Jawa Barat. Dedi kataku, aku terkejut engkau memberikan proyek besar kepadaku hari ini. Aku tidak menyangka kalau engkau sudah jadi bagian perencanaan di Badan Perencanaan Kabupaten Timah Segunung. Engkau malah menyemangatiku.
Engkaulah yang bahagia kini katanya. Kau jadi dosen. Aku didaerah kesulitan segala hal. Setelah kami berbincang-bincang. Aku jadi ingat antara kami Dedi paling kaya saat Kuliah. Diantara kami hanya Dedi yang pakai Laptop dan sebuah mobil kijang. Dedi kataku pula, engkau jadi idola dulu. Masihkah kau ingat itu?. Banyak gadis sunda dikota Hujan suka dengan engkau. Katanya engkau ganteng. Kaya raya dan serba lebih.
Ah kau ini Gia, bisa saja kau berbicara. Aku sudah memilih salah satu diantara perempuan. Kini sudah tertutup. Baiklah Dedi, maaf kalau menyinggung masa lalu. Ngomong-ngomong apa yang engkau tawarkan kepadaku. Katanya dia ingin aku mempunyai sumbangsih kepada daerahnya. Belum aku iyakan namun aku bertanya balik. Aku bilang buat apa aku kesana?. Bukankah semenjak dulu orang-orang disana sangat kaya. Timahnya berlimpah ruah.
Lhoh kampungmu pasti orangnya kaya dan rumahnya megah kataku. Aku ingat rumahmu dalam foto beberapa puluh tahun lalu. Besar dan megah, lantas buat apa engkau undang aku padahal mereka sudah sejahtera. Katanya engkau akan tau apa masalah masyarakat hingga kini. Akhirnya aku tidak enak hati. Tawaran Dedi akhirnya aku terima. Kemudian dia menyuruhku untuk mencari teman. Aku tau kalau memberdayakan masyarakat haruslah dari berbagai disiplin ilmu. Temanku Mamim aku undang juga untuk menguri urusan hutan dan konservasi.
Satu lagi aku undang juga pak Tabani sebagai ahli ternak. Aku mengundang kedua temanku itu atas dasar masalah yang disampaikan Dedi Tempo hari. Rasanya aku tidak sanggup kalau aku sendiri mengerjakan proyek besar. Setelah team ahli tadi lengkap. Aku menelepon Dedi. Dia akhirnya mengirimkan tiket pesawat dan memesankan Hotel pada daerahnya. Kami kemudian lepas landas hari jumat malam hari. Sampai di daerah itu sekitar pukul sepuluh malam.
Sedikitpun aku dan teman-temanku tidak melihat bagaimana daerah itu dari ketinggian 25 ribu kaki diatas bentang lahan. Semua gelap dan gulita. Aku tidak tau mengapa Dedi membelikan tiket dengan keberangkatan malam hari kepada kami. Sampai di Bandara Timah Besar. Kami sudah dijemput oleh Dedi. Langsung kami berpelukan. Sudah sekian tahun kami tidak bertemu. Langsung dia menanyakan kabar istriku dan anakku.
Dia bersama istrinya juga datang menjemput kami. Setelah perjalanan tiga jam. Sampailah kami disebuh Hotel Timah Indah. Semua daerah itu selalu namanya Timah. Wajarlah pikirku karena orang sini kaya karena Timah. Sampai dihotel, aku masih bingung harus apa yang aku kerjakan. Dedi meninggalkanku dan ketemu lagi esok harinya. Aku dan tiga temanku langsung diundang rapat di balai Bapeda. Satu persatu dinas-dinas tampil. Kami sibuk sekali mencatat apa yang jadi masalah pada daerah itu.
Setelah semua cacatan penuh. Kepala kami mulai pening dan terasa sangat rumit. Kami sudah tau bagaimana sulitnya membangun kabupaten Timah itu kini. Bayanganku tidak lagi seperti dulu. Esok harinya kami mulai melakukan survey ke sebuah Desa. Nama Desa itu Desa Timah Hitam. Pandangan kami dihentikan oleh terikan orang dari dalam rumah. Sampai-sampai seorang Ibuk separuh Baya keluar rumah. Kami berhenti sebentar. Aku tidak langsung turun dari mobil. Kami amati dulu apa yang terjadi.
Pria yang satunya terus mengeluarkan semua barang-barang dalam rumah itu. Televisi dikelurakan. Sepeda motor juga sudah selesai dibereskan karena mau diangkut. Ibuk-ibuk tadi makin histeris. Kami bingung apa yang terjadi. Rumahnya mewah. Mobil sedan camrynya satu buah miliknya terparkir didepan rumah. Halamanya luas sekali. Sama dengan orang disekitarnya. Tetangga-tetangganya sepi dan tidak ada orang. Akhirnya aku putuskan untuk turun.
Kataku kepada ketiga pria yang mengganggu ibuk itu, ada apa kau lakukan ini?. Hei kau diam saja. Hutangnya sudah banyak kepada bank. Semua mau kami tarik hari ini. Kami bertiga ini utusan tiga buah bank. Bukan begini caramu kataku. Kami sudah kasi tenggang waktu. Sudah empat bulan kami beri tangguh. Begini aja, besok kami datang lagi kemari. Engkau tanyakan saja kepada ibuk ini mengapa dikampung itu jadi begini nasib mereka?.
Engkau lihat tetangganya. Semua rumah mewah yang engkau lihat itu sudah ditarik bank. Makanya semua sepi. Sudah mari kita pergi kata pria yang satunya. Ketiga pria besar tadi pergi. Mamim dan Tabani tercengang setelah laki-laki itu pergi. Ibuk tadi memeluk Mamim dengan erat. Dia menangis. Suaminya separuh Baya juga keluar dari rumah. Dia mempertahankan semua barang-barangnya. Awalnya ibuk dan laki separuh baya tidak mau bercerita.
Aku mendesaknya hingga akhirnya dia bercerita. Ibuk itu mengakui kalau semua orang didesa timah sedang hidup dalam peceklik. Serba sulit terutama untuk dapat uang. Sudah hampir dua tahun mata pencaharian mereka ditutup paksa. Kalaupun dilakukan tidak bisa berproduksi lagi. Perusahaan sawsta dan negeri juga bangkrut. Mereka selama ini bergantung kepada perusahan itu. Kata ibuk itu mereka sempat berjaya saat timah masih berlimpah. Belum pernah mereka sadar kalau Timah makin menipis kalau diambil terus menerus.
Setiap ada lahan kosong berupa hutan langsung mereka tambang. Mereka dapatkan timah. Hutan semua habis jadi kawah biru. Kalau sudah habis pindah lagi pada lahan berikutnya sampai habis lagi. Pindah lagi kemana saja yang masih ada timahnya. Mereka tidak mau berkebun lada lagi karena timah lebih mahal. Mereka juga tidak mau menanam padi. Setelah mulai habis timah itu. Tinggal kawah biru dengan air yang sangat dalam. Hampir 5-7 meter dalamnya kawah itu. Selama ini mereka gunakan alat-alat berat untuk menggaruk Timah.
Kini habis timah tadi. Mereka harus makan setiap hari. Anak sekolah harus bersekolah juga. Rumah mewah yang sudah terbangun akhirnya tergadai. Kalau sudah habis uang hasil gadai tinggal hutang untuk melunasi. Kadang diperpanjang waktu gadai agar tidak ditarik rumah tadi. Setelah digadai lagi mobil mewah. Sampai mereka dapat timah lagi. Menurut Ibuk tadi, pernah mereka menutup satu lubang namun tanahnya tetap tandus. Apapun tidak bisa tumbuh kalau banyak logam berat. Ikan juga mati kalau masuk kedalam kawah itu.
Lingkungan sekitar benar tercemar. Mereka ingin bertanam lada namun lahan untuk lada sudah habis ditambang masa lalu. Kalau menanam sekarang lahan tidak ada lagi. Begitulah ibuk tadi bercerita. Semua orang disana menangis katanya dan bersedih dengan keserakahan mereka sendiri. Terjawab sudah pikirku. Sambil aku diam. Mamim menatapku diam. Tabani juga diam. Dasar pikirku mereka diam semua. Mungkin karena aku ahli sosiologi tidak tau kawah kemarin itu rupanya kawah tambang timah. Kerbau juga tidak bisa sebagai tempat mandiannya. Itikpun mati kalau kena logam berat.
Aku juga baru tau. Ibuk tadi sempat ribut dengan deptkolektor lantaran sumber pencarian mereka telah habis. Sambil aku katakan kepada ibuk itu. Ibuk tenang aja. Bantuan untuk ibuk akan datang. Besok aku menghadap kepala Bapeda Timah. Sebelum dept kolektor datang sudah pasti ada duit tebusan. Mereka bertiga berpamitan. Mamim langsung berkata kepadaku. Engkau sudah tau jawabannya? Sudah aku tau kini Mamim.
Lanjut tabani, apakah engkau sudah tau jawaban kenapa itik itu mati kalau berenang disana?. Sudah tau aku kini Tabani. Sekarang giliranmu bagaimana menyembuhnya psikologi mereka itu semua. Baiklah Mamim dan Tabani. Besok kita ketemu dengan Dedi. Saat ketemu dengan Dedi di Bapeda. Langsung Dedi bertanya kepada mereka. Apakah kalian sudah tau dan bagaimana mengatasi masalah itu? kami sudah tau kata ketiganya.
Sebelum kami kembali ke Jakarta. Tolong engkau bereskan wargamu. Kebetulan kami datang. Mereka sedang bersiteru dengan deptkolektor. Lantarn hutang banyak dan timah sudah habis. Berikan uang kepada Ibuk itu. Ini nomor kontak Ibuk itu. Ini Alamat rumahnya. segera kau datang. Alhamdulilah kalian sudah bertemu langsung dengan korban Timah. Aku langsung membantunya besok. Dua hari setelah berkeliling diKabupaten Timah Seribu. Mereka pulang kembali ke Bogor. Penerbangan kebetulan jam sebelas siang dari Bandara Udara Timah. Nampaklah seribu kawah Biru sisa tambang Timah dari atas pesawat.

…………………………..Tamat…………………
Bogor, Vila Bogor Indah, 23 Oktober 2016

Bahagia, SP. MSc, lahir di sebuah Desa Pagaran Tapah. Dulu Kabupaten Kampar dan kini jadi Kabupaten Rokan Hulu, Propinsi Riau. Menulis tulisan yang sederhana dan karyanya tersebar dimedia Lokal dan Nasional. Kini dia dipercaya menjadi dosen Tetap Universitas Ibn Khaldun Bogor.

About Novie Widia Astuti

Check Also

PKS Beri Sinyal Dukung Ridwal Kamil di Pilgub Jabar

BANDUNG TODAY- Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) belum memutuskan nama yang akan didukung dalam pergelaran Pemilihan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Bogor-Today.com