BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Home / Opini Today / Paradoks Pancasila

Paradoks Pancasila

 
DR. AHMAD SASTRA
Kepala Divisi Riset dan Literasi Forum Doktor Islam Indonesia
 
AKHIR-akhir ini Pancasila menjadi perbincangan yang paling menyita waktu bangsa Indonesia. Bisa dikatakan mendadak Pancasila, sebab sepanjang sejaran lahirnya pancasila, baru saat ini orang menyebut istilah `saya Pancasila`. Pancasila sebagai falsafah hidup (set of philosophy)  dihadapkan dengan sebuah dilema fundamental antara Pancasila sebagai simbol dan sebagai esensi. Patut disayangkan, sebab perbincangan seputar Pancasila terjebak kepada simbolistik, bukan kepada esensi pancasila. Antara ucapan `saya Pancasila` dengan fakta terdapat kesenjangan. Dengan demikian tidak berlebihan jika dikatakan `Pancasila hanya dimulut alias basa basi alias nato (not action talk only). Yang mestinya diperbincangkan adalah apakah cita-cita sila persila Pancasila sudah tercapai apa belum. Faktanya di masyarakat  (de facto) masih terjadi kesenjangan jauh antara cita dan realita, jauh panggang dari api.
Pada tanggal 1 Juni 2017 bahkan presiden menegaskan telah membentuk semacam lembaga atau badan pengamalan Pancasila. Meski belum jelas bagaimana lembaga ini akan bekerja, namun disisi lain pemerintah dan para pengemban amanah negeri ini justru sering memperlihatkan perilaku yang tidak pancasilais. Adalah sebuah paradoks saat pemerintah mendorong pengamalan Pancasila, sementara praktek korupsi semakin nampak jelas di mata rakyat. Di satu sisi rakyat yang telah miskin karena uangnya dikorupsi, disisi lain mereka dipaksa untuk mengamalkan Pancasila. Jadi siapa yang anti Pancasila, rakyat miskin atau koruptor ?. 
Kita mesti jujur sejujur-jujurnya bahwa sila persila Pancasila belum dapat diwujudkan oleh pemerintah dari rezim ke rezim. Sebab sebagai falsafah hidup, Pancasila sanat bergantung kepada ideologi apa yang mampu mewarnainya. Sistem dan ideologi yang mendasari bangsa ini dalam mengelola bidang ekonomi, pendidikan, budaya, politik, dan sosial yang akan mampu mewarnai Pancasila. Kita mesti jujur, bahwa bangsa ini mengadopsi sistem kapitalisme sekuler dalam menjalankan roda pemerintahan ini. Sebab sebagai seperangkat falsafah, Pancasila masih membutuhkan underline system. Bangsa ini memilih sistem kapitalisme sekuler untuk menopang Pancasila. Adakah ideologi ini sejalan dengan pancasila ?.
Ideologi kapitalisme sekuler jika kita telisik lebih mendalam justru menjauhkan negeri ini dari nilai-nilai Pancasila di semua aspek berbangsa dan bernegara. Sila pertama yang menyatakan keesaan Tuhan (tauhid) justru dinodai oleh berbagai penyimpangan agama yang semakin tumbuh tak terkendali. Sila kedua yang menyatakan kemanusiaan dan keberadaban justru dinodai oleh segala bentuk kriminalitas dan kezaliman yang semakin mengkhawatirkan. Nampaknya Pancasila dalam konteks ini belum mampu menjadi penjaga kemanusiaan dan keadaban di negeri ini.
Sistem ekonomi kapitalisme yang tidak dianggap bertentangan dengan Pancasila juga telah melahirkan kesenjangan ekonomi. Kekayaan di negeri ini hanya dikuasai oleh segelintir konglomerat, sementara rakyat kecil mayoritas belum bisa beranjak dari status warga miskin. Kemiskinan dan ketidaksejahteraan inilah yang seringkali memicu kriminalitas dan bahkan upaya disintegrasi. Cita-cita persatuan Indonesia justru berada di ujung tanduk dibawah hegemoni kapitalisme yang tak berkeadilan.
Sila keempat yang memandatkan amanah rakyat kepada anggota dewan juga seringkali justru yang terjadi adalah semacam pengkhianatan. Oleh anggota dewan yang terhormat, aspirasi rakyat seringkali tidak terwakili. Buktinya, aturan dan perundang-undangan yang dihasilkan tak jarang merugikan kepentingan rakyat dan menguntungkan kepentingan cukong. Maraknya aksi-aksi rakyat yang mempertanyakan kebijakan pemerintah adalah bukti nyata dari tesis ini. Fenomena ini otomatis mereduksi cita-cita Pancasila dalam mewujudkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Sesungguhnya di tangan kapitalisme sekuler, nilai-nilai Pancasila belum mewujud dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pancasila adalah seperangkat filosofi hidup (set of philosophy) yang sifatnya terbuka. Setiap orang dengan mudah bisa mengatakan bahwa dirinya adalah seorang pancasialis berdasarkan tafsiran masing-masing secara subyektif. Bahkan setiap orang juga bisa menilai orang lain tidak pancasilais dengan tafsiran yang subyektif pula. 
Masih ada sederet fakta lagi. Produk perundang-undangan yang liberal, kapitalis dan menyengsarakan rakyat tak banyak dikritik dari sudut pandang ‘ideologi Pancasila’ ini oleh anggota dewan yang mengaku pancasilais.  Karena sifatnya yang terbuka, akhirnya Pancasila sangat mudah ditafsir oleh siapapun, termasuk disalahgunakan dan ditunggangi untuk kepentingan yang sesungguhnya tidak pancasilais. Adalah kesalahan besar jika pemerintah memposisikan diri sebagai satu-satunya penafsir Pancasila yang benar, sebab ini bisa menumbuhkan benih otoriterisme.
Jadi, meski pada level filosofis, pemerintah mengaku melaksanakan Pancasila, underlying system atau sistem yang digunakan di negeri ini lahir dari sistem kapitalisme sekuler ala Barat (transnasional) yang bercorak sosialistik, kapitalistik maupun liberalistik. Kondisi ini sebenarnya tak terbantahkan, sebab rakyat sudah cukup merasakan bagaimana susahnya hidup di Indonesia yang sudah puluhan tahun merdeka ini.
Corak dasar sekulerisme adalah pemisahan antara agama dan kehidupan, mengabaikan peran agama sebagai sumber nilai. Agama hanya diletakkan sebagai urusan private. Jelas ideologi sekulerisme bertentangan dengan sila satu pancasila. Sementara ideologi komunisme ateis yang meniadakan eksistensi Tuhan otomatis bertentangan dengan Pancasila. Sementara ideologi Islam, selain mengakui adanya Tuhan, juga mengakui hukum-hukum Tuhan sebagai sumber aturan kehidupan seluruh manusia di dunia. Sebab karakter ideologi Islam adalah rahmatan lil`alamin.
Karena itu pemerintah jangan terlalu tersita waktunya hanya untuk mempertahankan Pancasila sebagai falsafah hidup, seolah ada komponen bangsa yang ingin mengubah Pancasila dengan ucapan-ucapan `saya Pancasila`, karena tidak ada ideologi yang jelas-jelas ingin membuang Pancasila kecuali komunisme atheis. Sementara pemerintah ini abai terhadap upaya mewujudkan esensi Pancasila itu sendiri, bahkan dengan sistem kapitalisme sekuler, justru faktanya bertentangan secara diametral dengan esensi Pancasila. Jadi siapa yang sesungguhnya anti Pancasila ?.

About Novie Widia Astuti

Check Also

Veteran Bogor Minta Untung Maryono Lengser dari Ketua DPRD Kota Bogor

BOGOR TODAY- Badan Kehormatan (BK) DPRD Kota Bogor menindaklanjuti adanya surat masuk perihal penggunaan seragam ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Bogor-Today.com