BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Home / Opini Today / Menggali Potensi Zakat untuk Kemashlahatan Umat

Menggali Potensi Zakat untuk Kemashlahatan Umat

Oleh. Budi Santoso Mahasiswa UIKA Bogor

 

TAK terasa ramadhan kini sudah mencapai akhir. Itu artinya ramadhan akan segera meninggalkan umat Islam pada tahun ini. Namun di sisi lain hari raya kemenangan umat Islam sudah di depan mata. Ya, hari raya idul fitri 1438 H tinggal menunggu hari.

Jika beberapa minggu yang lalu umat Islam disibukkan dengan puasa wajib di bulan Ramadhan, maka mulai saat ini sampai menjelang lebaran nanti umat muslim disibukkan oleh kewajiban lain yakni membayar zakat fitrah. Zakat fitrah ialah zakat yang wajib dikeluarkan oleh umat muslim sesaat sebelum merayakan idul fitri. Dan zakat ini juga merupakan saah satu rukun dalam Islam yang wajib ditunaikan oleh kaum muslimin.

Berbicara mengenai zakat maka berbicara pada dua dimensi sekaligus dalam ibadah. Dimensi tersebut ialah dimensi vertikal dan dimensi horizontal. Dimensi vertikal yakni dimensi yang berhubungan langsung dengan Allah swt. dan dimensi horizontal yakni dimensi sosial yang berhubungan dengan sesama manusia.

Pada dimensi vertikal, hal ini bisa dibuktikan dengan penyebutan orang yang beriman dengan pengaplikasian zakat. Hal tersebut tertuang pada surat al-Baqarah (2: 277), al-Mukminun (23: 1-4), dll. Bahkan dalam realitasnya, Sahabat Abu Bakar ash-Sidik memerangi orang yang tidak membayar zakat.

Selain dimensi vertikal yang berhubungan langsung kepada Allah swt., zakat juga memiliki dimensi sosial atau biasa yang disebut sebagai ibadah maliyah iztimaiyah atau ibadah yang memiliki fungsi sosial. Pembuktian dalam ibadah ini adalah dengan melihat hasil zakat yang didistribusikan langsung kepada golongan yang wajib dizakati. Golongan yang dimaksud ialah orang fakir, miskin, para amil dan para muallaf  yang dibujuk hatinya, untuk memerdekakan budak dan orang yang berutang, untuk jihad di jalan Allah, dan orang yang sedang dalam perjalanan (QS. at-Taubah [9]: 60).

Pada konteks di Indonesia, potensi zakat yang terbilang sangat besar belumlah bisa terserap keseluruhan. Dalam masa menjelang lebaran misalnya, baik pada level atas, menengah, bahkan level bawah tak jarang yang disibukkan bukanlah membayar zakat melainkan disibukkan dengan perilaku konsumtif yakni berbelanja pakaian, dan semisalnya. Memang tidak ada yang salah. Namun jika sesuatu hal yang wajib kemudian disampingkan dengan sesuatu hal yang sunnah inilah yang sebetulnya menjadi salah kaprah. Mau tidak mau inilah tugas bersama umat Islam di Indonesia.

Menggali Potensi Zakat

            Tugas besar umat Islam khususnya di Indonesia adalah bagaimana dengan potensi zakat yang besar yang dimiliki oleh Indonesia bisa tergali secara maksimal. Tujuan utamanya bukanlah sekedar penyerapan dana dari kantung-kantung wajib bayar zakat (muzaki) melainkan dana yang memang menjadi hak umat bisa turun sampai pada tangan-tangan tidak mampu bayar zakat (mustahik). Hal inilah yang diperingatkan Allah pada umat Islam agar harta kekayaan tidak hanya beredar pada orang-oarang kaya saja (QS. al-Hasyr [59], 7). Dan terlebih lagi Allah menyatakan dengan zakat itu, harta yang dimiliki oleh seorang muzaki akan suci (at-Taubah [9], 103).

Maka, untuk menggali potensi zakat –baik dalam ramadhan kali ini atau tidak- setidaknya ada empat langkah menurut Prof. Didin Hafidhuddin yang diambil dalam penelitiannya yang berjudul Peran Strategis Organisasi Zakat Dalam Menguatkan Zakat di Dunia (Al-Infaq; Jurnal Ekonomi Islam, 2011)

Yang pertama yaitu dengan adanya sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat terkait dengan hukum dan hikmah zakat, harta objek zakat sekaligus tata cara perhitungannya, dan kaitan zakat dengan pajak.

            Yang kedua, dengan penguatan amil zakat. Hal ini dilakukan agar setiap amil menjadi amil yang amanah, terpercaya, dan profesional. Dalam hal ini perlu dilakukan penguatan kepada SDM-SDM yang berperilaku akhlakul karimah, berpengetahuan luas tentang fiqih zakat, serta manajemennya secara baik.

            Yang ketiga, dengan melalui penyaluran zakat yang tepat sasaran sesuai dengan ketentuan syariah dan memperhatikan aspek-aspek manajemen yang transparan. Sebagai contoh, zakat di samping diberikan secara konsumtif untuk memenuhi kebutuhan primer secara langsung (QS. Al-Baqarah, [2]: 273), juga diberikan untuk meningkatkan kegiatan usaha dan kerja mustahik/zakat produktif (Al-Hadist).

Yang keempat, dengan adanya kesinergisan dan kekoordinasian antar sesama amil zakat baik di tingkat daerah, regional, nasional, bahkan internasional.  Selain dengan amil zakat perlu ada komponen umat yang lain seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI), lembaga-lembaga pemerintah, organisasi-organisasi Islam, Lembaga pendidikan Islam, perguruan tinggi, media massa, dan lain-lain.

             Dengan empat langkah tersebut, diharapkan potensi zakat yang masih terserap minim yang belum sampai 10% bisa terserap secara maksimal. Dan tentunya ini hanya bisa tercapai jika keempat langkah tersebut diaktualisasikan di kehidupan nyata. Sehingga kemenangan umat Islam yang menjadi jargon pada perayaan idul fitri tidak hanya sebatas jargon dan seremonial semata melainkan bisa terwujud. Aammiin.

About Novie Widia Astuti

Check Also

PKS Beri Sinyal Dukung Ridwal Kamil di Pilgub Jabar

BANDUNG TODAY- Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) belum memutuskan nama yang akan didukung dalam pergelaran Pemilihan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Bogor-Today.com