BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Home / Didaktika / Mendikbud Singgung Kekurangan Guru

Mendikbud Singgung Kekurangan Guru

JAKARTA TODAY –  Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy melaporkan, akan ada lebih dari 200.000 tenaga guru yang memasuki masa pensiun di tahun 2017 hingga 2021. Secara nasional Indonesia kekurangan guru.

Hal ini diungkapkan Muhadjir saat menghadiri rapat gabungan lintas komisi DPR dan Kementerian terkait di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (4/6/2018). Rapat membahas permasalahan tenaga honorer K2.

“Guru yang akan pensiun mulai 2017 itu ada 38.809, 2018 51.000, 2019 52.000, 2020 72.000 dan 2021 69.000. Ini yang akan memerlukan solusi jangka panjang,” kata Muhadjir dalam rapat.

Muhadjir menjelaskan, jumlah guru nasional saat ini sebanyak 3.170.296 juta guru. Untuk guru bukan PNS di sekolah negeri sebanyak 735.825 ribu, sedangkan jumlah guru bukan PNS di sekolah swasta sebanyak 788.288.

“Total guru bukan PNS di sekolah negeri dan swasta 1.534.031. Kemudian guru PNS di sekolah negeri, itu 1.378.940. Kemudian, guru PNS di sekolah swasta adalah 104.135. Kemudian total sekolah negeri dan swasta 1.430.285,” ujarnya.

Untuk mengatasi kekurangan guru itu, Muhadjir mengatakan pihaknya akan melakukan berbagai upaya untuk mengatasi permasalahan kekurangan guru di Indonesia. Salah satunya, kata Muhadjir, melakukan optimalisasi guru yang berlebih.

“Optimalisasi guru yang berlebih dengan cara mutasi daru sekolah satu ke sekolah yang lain yang mengalami kelebihan,” katanya.

Tentunya, kata Muhadjir, optimalisasi itu membutuhkan kerjasama yang baik dengan pemerintah daerah. Sebab, berdasarkan UU No.26 Tahun 2014, guru menjadi kewenangan masing-masing provinsi, kabupaten/kota.

“Sehingga kewenangan untuk melakukan mutasi ini mutlak di tangan para pemda,” ujarnya.

Selain melakukan mutasi pada guru yang berlebih, Kemendikbud juga akan memberikan kewenangan tambahan kepada para guru. Guru, kata Muhadjir, diperbolehkan untuk mengajar lebih dari satu mata pelajaran.

“Karena satu hal yang bikin boros adalah mempekerjakan lineritas yaitu dimana satu guru hanya bisa mengajar 1 mata pelajaran. Padahal untuk dosen bisa mengajar beberapa mata kuliah, tapi guru kalau mau mengajar lebih dari satu mata pelajaran dinggap sebagai beban kerja,” kata Muhadjir.  (net)

About alfian mujani

Check Also

Aher Pensiun Mulai 13 Juni, Mendagri Tunjuk Iwa Jadi PLH Gubernur Jabar

BANDUNG TODAY – Pemerintah pusat resmi menunjuk Sekretaris Daerah Jawa Barat Iwa Karniwa menjadi Pelaksana ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Bogor-Today.com