BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Home / Style Today / Bogor Woman's Club / Mari Belajar Hidup Sehat

Mari Belajar Hidup Sehat

Untitled-4MERASA perlu untuk memulai kembali hidup sehat, salah satu anggota Bogor Women’s Club (BWC), Rini Aryati mengajak masyarakat Bogor untuk cerdik berhidroponik. Dibawah bimbingan Anny Pudji Astuti selaku pemeran dan pelatihan hidroponik, Rini menilai dengan menanam sendiri tentu semua orang tidak perlu mempertanyakan kualitas tanaman itu sendiri.

Oleh : Latifa Fitria
fitrianislatifa@gmail.com

Mungkin sudah rahasia umum bahan makanan yang bere­dar saat ini sudah mulai ban­yak diragukan akan kesehat­annya, terlebih lagi sayuran. Sayuran adalah bahan makanan yang tidak tahan lama, dalam suhu ruangan mungkin han­ya bertahan tidak lebih dari seminggu. Setelah seminggu dalam suhu ruangan biasanya sudah mulai berubah rasa, war­na, tekstur, dan aromanya.

Apalagi ketika musim-musim hama seperti musim hujan. Biasanya petani menyemprot pestisida yang tidak dik­etahui apakah takarannya pas atau ber­lebihan. Terlebih lagi sisa pestisida yang menempel di daun atau buah ini sangat sulit dibersihkan, walaupun dicuci den­gan air karena zat perekat dari pestisi­danya. Itu sebabnya, kualitas sayur dan buah-buahan yang dijual di pasar bersih dan tradisional belum tentu memiliki standar kesehatan yang aman untuk dikonsumsi.

Sudah tidak dipungkiri, residu pesti­sida juga ada yang masuk dalam tubuh bersama sayur yang dikonsumsi oleh tubuh. Padahal pestisida juga bersifat racun bagi manusia. Jika dikonsumsi se­cara rutin otomatis tubuh juga mengkon­sumsi residu pestisida secara rutin juga. Dan akhirnya residu pestisida terakumu­lasi dalam tubuh dan meracuni tubuh manusia.

“Kita lebih jelas mengetahui kita semprot berapa takarannya dan kita juga tahu sendiri bagaimana proses mena­namnya hingga panen. Selain itu lebih fresh karena saat kita butuh kita lang­sung panen saja. Tujuan kita makan sa­yur supaya sehat tetapi yang ada malah kita jadi sakit karena akumulasi residu pestisida tersebut,” tuturnya.

Menurut Rini, upaya ini kaitannya san­gat erat dengan lingkungan sekitar, teru­tama keluarga. Sebab sebagai salah satu tindakan nyata kepedulian terhadap kese­hatan adalah gerakan gemar makan sayur dan buah. Hidup sehat dengan sayuran yang dapat ditanam dan petik sendiri di kebun belakang rumah atau teras depan, adalah satu langkah awal untuk memu­lai peduli akan ketahanan pangan. Dan satu hal yang luar biasa istimewa adalah sayuran dan buah-buahan yang ditanam, adalah suatu bahan makanan yang dikon­sumsi tanpa pestisida sama sekali. Ini adalah satu nilai kesehatan yang tidak dapat dibeli.

“Hal ini yang harus kita tanamkan kepada anak-anak. Sebab fenomena efek samping pestisida pada kesehatan dan berkurangnya lahan pertanian atau perkebunan yang akhirnya menelurkan teknik budidaya tanaman organik ataupun hi­droponik, dimana hasilnya sudah bisa dengan mudah kita dapatkan di super­market, hanya saja harganya masih rela­tif mahal. Disini saya akan berbagi pengalaman cerdik berhi­droponik, ” pungkasnya.

About admin

Check Also

Latih Kader Ilmu Menjahit

BOGOR Women’s Club (BWC) kembali membuat kegiatan ‘Barter Ilmu’. Jika sebelumnya para wanita-wanita ini membuat ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Bogor-Today.com