BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Home / Ekbis / Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,06% pada Kuartal I 2018

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,06% pada Kuartal I 2018

JAKARTA TODAY – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2018 sebesar 5,06%. Posisi ini lebih tinggi dibandingkan laju ekonomi pada periode yang sama tahun lalu 5,01%, juga lebih tinggi dari kuartal I 2016 yang sebesar 4,84%.

“Pertumbuhan ekonomi kuartal I 2018 5,06% lebih tinggi dibanding 2017. Pertumbuhan ini lebih bagus dari tahun-tahun sebelumnya,” ujar Kepala BPS Suhariyanto, Senin (7/5/2018).

Sebelumnya, Ekonom Institute For Economic and Development Finance (Indef) Bhima Yudhistira memprediksi, pertumbuhan ekonomi mencapai 5,07% secara year on year (yoy).

“Pertumbuhan ekonomi kuartal I 2018 diprediksi sebesar 5,07% (yoy),” ujarnya.

Dia menyatakan, pada kuartal I motor penggerak dari pertumbuhan ekonomi adalah belanja pemerintah. Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat hingga 31 Maret 2018 realisasi belanja pemerintah pusat mencapai Rp233,95 triliun, lebih tinggi dari periode sama tahun lalu yang sebesar Rp204,84 triliun.

“Motor pendorong kuartal I berasal dari belanja pemerintah yang realisasinya lebih baik dari tahun lalu,” ucapnya.

Dia menjelaskan, faktor lain yang mempengaruhi yakni konsumsi rumah tangga yang sedikit terkontraksi, ditunjukkan oleh data indeks penjualan riil yang melambat khususnya pembelian durable goods atau barang tahan lama.

Di mana penjualan kendaraan khususnya roda empat pada Januari-Maret tumbuh 2,8% (yoy), lebih rendah dari periode yang sama tahun sebelumnya. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor (Gaikindo) penjualan kendaraan pribadi turun -2,3%.

“Porsi konsumsi rumah tangga yang dominan sebesar 56% terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) diperkirakan tumbuh stagnan 4,9-5% sehingga menjadi indikasi awal ekonomi masih belum berada di tahap ekspansi,” tuturnya.

Dari sisi investasi, lanjutnya, juga masih belum ada kenaikan yang signifikan. Menurutnya, ini memang faktor musiman awal tahun di mana realisasi investasi kecil dan baru akan terlihat adanya kenaikan di semester II. Pertumbuhan investasi diprediksikan Bhima berada di 7% dengan porsi investasi diperkirakan sebesar 31% dari PDB.

Sementara, kinerja ekspor pun dinilai masih melandai karena sepanjang Januari-Februari tercatat defisit neraca perdagangan. Sementara surplus yang terjadi pada Maret lebih diakibatkan perlambatan impor yang tumbuh 2,13% (mtm).

“Kinerja ekspor minyak kelapa sawit Januari-Matet anjlok -17,34% dibanding posisi yang sama tahun sebelumnya. Minyak sawit yang cukup dominan atau porsinya 12,8% dari total ekspor non migas terkena dampak kenaikan bea masuk dari India,” jelasnya.  (net)

About alfian mujani

Check Also

Terus Naik, Harga Minyak Dunia Sentuh USD80/Barel

NEW YORK TODAY – Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10-tahun naik pada Kamis (Jumat pagi ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Bogor-Today.com