BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Home / Opini Today / Amblesnya Kampung Tanjung

Amblesnya Kampung Tanjung

ORANG-orang semua berlari-lari. Sebagian ada yang menangis tersedu-sedu. Menepuk-nepuk tanah. Peluk-pelukan antara yang satu dengan yang satunya. Seperti menyesali semua perbuatan yang telah dilakukan. Hujan deras sore tanggal 27 April 2016 disitulah terakhir kalinya aku melihat desa tanjung. Desa kesayangan kami semua. Aku dan ayah serta Ibuk sungguh dikejutkan dengan melihat desa kami sudah tidak ada lagi.
Rupanya hujan rintik-rintik sore itu membuat tanah kampung tanjung harus ambles dengan kedalaman sampai dengan 500 meter. Nampak seperti kawah besar dan berisikan sedikit air. Kalau datang hujan deras maka desa kami pasti menjadi danau. Kami tidak bisa lagi berkata apapun kepada warga disana. Orang yang selamat berteriak histeris dan tidak bisa dihentikan tangisnya. Kehilangan suami, kehilangan anak, kehilangan mertua, dan satu perempuan belia yang masih hamil pula.
Team penyelamat bencana alam dan team medispun sibuk mencari korban yang selamat. Tidak banyak yang selamat dari kejadian itu. Dan tidak banyak yang bisa diselamatkan lagi. Hanya satu atau dua oranglah yang selamat. Itupun sudah mengalami trauma yang sangat berat. Hampir saja nampak tidak lagi seperti manusia yang waras. Semua menatap ke kampung amblesan itu. Hampir 300 orang yang terkubur pada kejadian itu.
Hampir seluruhnya dinyatakan tidak bisa tertolong lagi karena sulitnya pengangkatan tanah. Bagaimanapun tetap diusahakan untuk mengangkat jenazah yang ada dikampung itu. Kampung tanjung yang ramai sedikit demi sedikit mulailah hilang karena datangnya waktu malam. Malam kampung itu menjadi kampung mati. Yang biasanya lalu lalang mobil mewah, muda dan mudi juga hilir mudik kampung.
Rupanya kejadian Itulah yang ditakutkan oleh Ayah selama ini sehingga kami sudah setengah tahun lalu tidak lagi tidur dikampung kami. Ayah memilih dan membeli rumah di perkotaan dan meninggalkan desa kesayangannya. Awal mula kejadian itu karena banyaknya sikap serakah dikampung kami. Kampung kami dekat dengan perusahan tambang. Perusahan tambang yang termasuk besar dikampung kami.
Wargapun tertarik dengan bongkahan emas dan perak dari Alam itu. Akhirnya semua warga dikampung kami menjadi penambang liar. Membuat lubang besar dibawah tanah dan masuk dari bawah kampung tanjung menuju lubang besar perusahaan. Setiap hari mereka membuat lubang-lubang kecil, kemudian mereka pahat lagi kayu dan dibuat lagi, sebagian mereka masukkan ke gorong-gorong.
Hampir setiap rumah mempunyai lubang dan hampir setiap rumah mempunyai bongkahan emas. Meski sebelumnya juga sudah pernah terkubur 40 orang namun belum juga nampak sikap jera itu pada orang-orang kampung didesa kami. Kampung tanjung sebenarnya desa yang sudah lama keropos dan tinggal menunggu waktu namun tidak semua yang tau.
Ayahlah yang sudah tahu duluan karena informasi dari salah seorang penambang liar yang ikut dalam permainan jahat tadi. Kini penambang liar dulu itu sudah pergi duluan barulah menyusul Ayah. Namanya pak Marto, pak marto menuturkan jika dibawah sana juga ada warung-warung yang sudah dibangun. Mana mungkin warga kampung itu bisa hidup selama seminggu dibawah tanah sana jika tidak ada yang makan. Jadi diaturlah strategi tambang liar tadi. Sebagian tinggal diatas dan bersiap-siap untuk selalu mengirimkan makanan. Mereka bersatu dengan penambang lain dalam satu lubang.
Lubang-lubang tambang itu mencapai satu kilo meter atau bahkan lebih, bentuknya mirip seperti akar kayu. Bercabang-cabang dan banyak sekali lubang-lubang itu. Ada lubang utama, banyak lubang menuju lubang utama. Dari kampung nampak kecil namun jika bertemu dengan lubang yang lebih besar maka panambang liar itu bertemu satu sama yang lain. Mereka sepakat dalam bawah tanah. Mungkin sampai dua atau tiga kilometerlah jauhnya lubang itu.
Warga memang nekad dan bertahun-tahun membangun lubang-lubang itu. Satu hal yang mereka lupakan kata pak Marto yaitu bagaimana jika suatu waktu terjadi ambelasan. Diatas ada beban pepohonan dan rumah. Semua itu berpotensi untuk mempercepat ambelasnya kampung. Ayahku sambil menatap desa itu, ia teringat apa yang dikatakan pak Marto beberapa bulan yang lalu. Waktu itu juga sudah diperingatkan kepada warga untuk tidak lagi tinggal pada desa itu karena dibawahnya sudah banyak lubang.
Mereka sendiri yang buat lubang itu. Ayahku berkata, “Andi, aku kirim kau sekolah ke Yogyakarta karena melihat kondisi orang dikampung kita ini, sebenaranya jika harta benda tadi terus dicari maka serakahlah manusia terhadap Alam’, “lupalah ia kalau alam itu ada titik jenuhnya”, warga menambang berlebihan dan liar maka ada konsekuensi peringatan atas itu. Tujuannya sebenarnya untuk memberikan peringatakan kepada kita. Namun tak tak tahan pula duka yang dalam dihati.
Sanak saudara hilang dan harta benda. Tak sanggup yang hidup mengalami kejadian itu. Andi…, sebentar lagi akan banyak perempuan hamil yang stress ditinggal suami. Banyak pula janda yang hidup. Engkau lihat masih ada yang selamat. Yang selamat ini sebagai bukti otentik untuk Kita agar menghentikan perkerjaan penambang liar. Bolehkan kita ambil sedikit emas itu namun dengan alat-alat yang lengkap. Bersama dengan perusahaan.
Melakukan negosiasi terus dengan perusahaan tambang. Agar ada share benefit dengan kita. Semuanya harus adil. Dengan cara begilah Allah mengingatkan kepada manusia bahwa serakah itu perlu dihentikan. Jika sudah begini maka tidak bisa disesali. Bebarapa hari dari kejadian itu, mulailah bantuan alat berat datang untuk mencari korban. Berbulan-bulan tidak ditemukan. Karena masih terus ambles hingga kampung Tanjung ambles beberapa meter lagi. Nampak sangat berat untuk mencari korban.
Ditambah lagi hujan yang mengguyur kampung itu. Membuat kampung itu makin banyak air. Hujan deraspun kemudian datang dan menggelamkan kampung itu. Kampung Tanjung rata dengan air. Dibawahnya korban yang banyak. Dan sampai kini tidak bisa diselamatkan lagi. Masalahpun kemudian bertubi-tubi. Perempuan hamil bernama Leni datanglah terus untuk membuang bunga ke danau tanjung itu.
Datang kesana dan kemudian menangis. Kadang shalat dzuhur dan asharpun ia disana. Ia teringat suami kesayanganya yang telah tiada. Meninggalkan buah hati yang masih dalam kandungannya. Ia tatap langit, memang beratlah ia rasa untuk hidup. Kadang ia terpikir untuk terjun pula ke danau tanjung itu namun ia tahu pula resiko yang ia dapatkan. Sudah suaminya meninggal ditelan bumi maka haruskah ia bunuh diri pula.
Hampir lima bulan ia begitu terus hingga kandungannya sudah hampir 8 bulan. Sebentar lagi ia akan melahirkan. Untungnya selama ini ia datang ke danau itu untuk membuang bunga kemudian shalat disitu sehingga jauhlah dari setan. Akhirnya ia sadari bahwa kematian memang tidak ada yang tahu dan bagaimana cara Allah untk itu. Ia sadari kini karena Ayahku juga terus mendorongnya untuk hidup tegar meskipun ia hidup bersama dengan Ibu dan ayahnya.
Mertuanya juga ikut menjadi korban, adiknya, kakaknya dan neneknya. Semua terkubur dan menjadi danau itu. Danau itu kini sangatlah indah. Ditepi-tepinya tumbuh pohon dan ditanami pula hutan. Menjadi tempat wisata yang menarik bagi orang. Memuji-muji danau itu. Terkenal pula banyak Ikannya kerena pemerintah sengaja membuat danau tanjung agar Indah. Namun setiap orang yang berkunjung kesana maka diceritakanlah asal muasal danau tanjung tadi. Mengapa dikatakan danau tanjung dari desa tanjung.
Pada dasarnya desa tanjung juga berada perisi di dua kaki bukit kecil. Hingga tertimbun dan membentuk kawah besar. Semuanya bersedih jika diceritakan itu. Meneteskan air mata sebagian orang yang dengar. Mereka tidak percaya dan bahkan itu hanya mitos. Setelah dibawakan saksi yang hidup barulah yakin. Betapa dahsiatnya alam semesta ini jika sudah marah kepada manusia. Dan betapa dahsiatnya alam itu jika sudah menjadi begini. Akhirnya banyaklah manusia yang bertobat dari cerita desa tanjung menjadi danau tanjung.
…………………………..Tamat…………………
Bogor, Puri nirwana 3, 05 Mei 2016.

Bahagia, SP. MSc, lahir di Pagaran Tapah, Kabupten Kampar Riau, Menulis tulisan sederhana dan karyanya tersebar dimedia Lokal dan Nasional, Ia dipercaya menjadi dosen Tetap Universitas Ibn Khaldun Bogor, Jawa Barat.

About Novie Widia Astuti

Check Also

PKS Beri Sinyal Dukung Ridwal Kamil di Pilgub Jabar

BANDUNG TODAY- Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) belum memutuskan nama yang akan didukung dalam pergelaran Pemilihan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Bogor-Today.com